Santri Jaga Perdamaian NKRI

273
Peringatan Hari Santri Nasional di komplek Alun alun Wonosari, Minggu (22/10/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Dalam rangka memperingati hari santri pada Minggu (22/10/2017), ribuan umat Islam di Kabupaten Gunungkidul menggelar apel bersama di Alun-alun Wonosari. Dalam acara ini sampai malam digelar berbagai acara termasuk pementasan tarian kolosal yang akan dilakukan ribuan santri.

Bupati Gunungkidul Badingah mengatakan ada tiga argumentasi utama yang menjadikan Hari Santri Nasional sebagai sesuatu yang strategis bagi NKRI. Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, merujuk pada peristiwa sejarah dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari, yang menggerakkan santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak bersama, berjuang melawan pasukan kolonial, yang berpuncak pada peristiwa Pertempuran 10 Nopember 1945 di Kota Pahlawan, Surabaya.

Badingah menambahkan jaringan kiai-santri telah terbukti konsisten menjaga perdamaian dan keseimbangan karena para kiai-santri sudah sadar pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama.

“Selain iru ada kelompok santri dan kiai-kiai telah terbukti dan akan selalu mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan selalu berada di garda depan untuk mengawal NKRI dan memperjuangan Pancasila. Bahwa NKRI merupakan bentuk final Negara dan harga mati yang tidak bisa dikompromikan,” katanya dalam sambutan dihadapan peserta apel.

Dia mengatakan, saat ini di era globalisasi dengan tantangan semakin beragam, Badingah mengajak jaga dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah dan insaniyah yang selama ini telah terjalin dengan sangat baik, dalam rangka mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa yang memang serba plural.

“Tidak lupa saya berpesan kepada jamaah sekalian untuk terus membekali diri selain dengan keimanan dan ketaqwaan, juga dengan berbagai ketrampilan dan jiwa wira usaha, khususnya dalam menghadapi pesatnya perkembangan dan kemajuan pariwisata di daerah ini,” tambahnya.

Badingah mengatakan, kemajuan pariwisata di Kabupaten Gunungkidul telah membawa manfaat yang siginifikan dalam peningkatan perekonomian warga. Namun demikian, disisi lain kemajuan tersebut telah memunculkan potensi akulturasi budaya, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, maupun konflik kepentingan.

“Saya sangat berharap agar seluruh santri dapat bersatu padu, menjaga persatuan dan kesatuan umat dan masyarakat berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, sehingga dapat meminimalisir dampak negatif kemajuan pariwisata di daerah ini,”ujarnya.

Badingah berpesan agar tetap mmejaga keutuhan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam Hari santri ini dia berpesan agar ikut berjuang dalam kemajuan bangsa. Badingah mengajak kepada seluruh jamaah untuk terus melaksanakan pembinaan karakter berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT., baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

“Santri selalu hidup mandiri tanpa mengeluh atau pun menuntut, serta tidak menyebar kebencian kepada Negara. Santri selalu merasa wajib menjadi penjaga rumah besar NKRI, tanpa selalu berebut isi rumahnya dari kelompok etnis, suku, RAS, dan pemeluk agama lain,”ucap Badingah..

Ketua Panitia hari santri, Taufik Ahmad Soleh menyampaikan perayaan hari santri di Gunungkidul ada beberapa rangkain diantaranya, lomba Cerdas Cermat Aswaja, seminar Santripreneur dan Pameran produk santri, penggalangan dana bantuan kemanusiaan Rohingnya. Puncak HSN selain apel akbar, juga istighosah kubro, orasi kebangsaan, serta ijazah jalbur rizki. Puncaknya adalah Drama Kolosan yang diperagakan oleh 1.000 santri dari titik nol kilometer, alun-alun Gunungkidul. (yve)