Sastrawan Lima Kota Berkolaborasi di  Gombong

90
Sejumlah sastrawan  menggelar kegiatan di Roemah Martha Tilaar (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Untuk kesekian kalinya Roemah Martha Tilaar (RMT) Gombong menggelar perhelatan sastra, Sabtu (08/09/2018). Kali ini tema intinya adalah bedah Kumpulan Geguritan Mung Ngabekti karya Na Dhien, perempuan asli Salatiga yang menetap di Jakarta.

Bedah buku ini dirangkai dengan pagelaran geguritan yang menampilkan para sastrawan dari beberapa kota di Jawa seperti Jakarta, Tegal, Kebumen, Kendal, Semarang dan Solo.

Acara yang bersifat gratis dan terbuka untuk umum ini diminati para pegiat sastra maupun masyarakat Kebumen pecinta sastra.

Penyair Na Dhien yang bukunya dibedah mengungkapkan kehadirannya di Gombong adalah kali kedua. Yang pertama dia menjadi bagian tim seniman Teted Sri WD dalam pementasan repertoar macapat Dras Sumunar.

Sejak pertama kali bersastra di Gombong, Na Dhien sudah jatuh cinta pada kota kecil ini. Sebuah kota yang selama ini mungkin tak diperhitungkan dalam peta sastra Indonesia namun ternyata memiliki potensi yang besar.

Baca Juga :  Rentenir Itu Manis di Depan Pahit di Belakang

“Kehadiran saya dan sahabat-sahabat sastra ini sedikit banyak menyemangati para pegiat sastra di Kebumen untuk terus meningkatkan kualitas sastrawi mereka,” ujar perempuan yang sedang mempersiapkan diri terlibat dalam Ubud Writer’s Festival itu.

Marcomm Roemah Martha Tilaar, Alona Novensa, mengungkapkan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Roemah Martha Tilaar dengan komunitas Lingkar Sastra Gombong (LISONG) serta komunitas penggemar tembang tradisional Jawa Kalangan Macapatan.

Selain itu juga adanya dukungan dari para pegiat sastra luar kota yang memungkinkan merangkul komunitas sastra di beberapa kota.

“Kami bersyukur geliat sastra yang kami adakan ternyata tak luput dari perhatian para pegiat sastra luar daerah. Ini terbukti sejak 2016 sudah ada beberapa seniman luar kota yang menggunakan tempat kami sebagai ajang berkesenian, baik itu sastra, seni rupa maupun bentuk seni lainnya,” kata Alona yang juga seniman grafis ini.

Baca Juga :  Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Tertinggi

Dan yang lebih membanggakan ternyata para seniman lokal juga terlibat aktif sehingga diharapkan kolaborasi ini akan menjadi proses pembelajaran.

“Kami sudah mendapatkan kabar teman-teman sastrawan dari Banyumas, Jogja dan beberapa kota lain berminat datang. Bahkan dari Balai Bahasa Jawa Tengah pun akan hadir. Semoga jalinan silaturahim ini mampu mendorong majunya dunia sastra Kebumen,” kata Alona.

Tahun 2018 ini RMT menjalankan program fellowship, beberapa seniman lokal dibiayai untuk mewujudkan sebuah karya seni. Saat ini RMT membuka ruang bagi seniman lokal bidang tari, karawitan dan film untuk berkolaborasi dan mewujudkan karya seni berbasis kearifan lokal.

“Kami juga mendatangkan narasumber untuk memberi pengayaan dan memperluas wawasan seniman lokal yang terlibat” kata dia. (sol)