Satpol PP Tangkapi Gelandangan dan Orang Gila

152
Sebagian gelandangan, pengemis dan ODGJ, selesai menjalani observasi kejiwaan di Poli Jiwa Puskesmas Pejagoan, Rabu (21/02/2018). (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebumen melakukan razia terhadap gelandangan, orang terlantar serta orang gila atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Rabu (21/02/2018).

Tidak  kurang 25 orang yang berada di tempat umum, dengan ciri ciri gelandangan, pengemis, orang  terlantar dan ODGJ ditangkap dan  dikumpulkan di Poli Jiwa Pejagoan Kebumen.

Mereka yang diamankan dalam kondisi kotor kemudian dimandikan. Rambut yang gondrong langsung dicukur sehingga  mereka terlihat bersih.

“Sebagian besar bukan ODGJ,“ kata dokter H Agus Sapariyanto, Kepala UPTD Puskesmas Pejagoan kepada koranbernas.id, seusai observasi kejiwaan mereka yang diamankan.

Penanganan lebih  lanjut terhadap yang bukan ODGJ diserahkan ke Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsosdalduk KB) Kebumen.

Baca Juga :  Ini Sebabnya Pengelolaan Cagar Budaya Tak Optimal

Ada dua orang yang perlu perawatan di rumah sakit  pemerintah karena menderita anemia. Selebihnya menderita gondok.

Puskesmas Pejagoan juga menyerahkan teknis rujukan ke Dinsosdalduk KB, karena dinas itu yang menangani masalah masalah sosial.

Menurut Agus Sapariyanto mengutip keterangan anggota Polres Kebumen, razia itu selain untuk membebaskan Kebumen dari  gelandangan, pengemis dan ODGJ, juga sebagai  antisipasi kejadian kriminal dengan sasaran tokoh agama.

Kejadian kekerasan terhadap tokoh agama di beberapa tempat akhir-akhir ini, dengan pelaku ODGJ, menjadi salah satu alasan razia itu.

Dari puluhan orang yang dirazia, setidaknya ada tiga orang yang bukan penduduk Kabupaten Kebumen. Mereka mengaku berasal dari Wonosobo dan Jambi.

Baca Juga :  Ingin Jadi CPNS di Jogja? Harus Kuasai Keistimewaan Kota Ini

Mereka diamankan ketika sedang duduk duduk di pasar dan di pinggir jalan. “Saya tidak punya  pekerjaan, akan ke Jakarta, jalan kaki, “ ujar seorang  gelandangan ber KTP (bukan e-KTP) Jambi, namun sudah berakhir masa berlakunya tahun 2012. (sol)