Satu Rumah Jadi Dua Pangkalan LPG

140
Ilustrasi. (Eksplorasi.id)

KORANBERNAS.ID–Pemasaran LPG 3 kilogram atau LPG melon di Kabupaten Klaten masih saja dicederai dengan terjadinya penyimpangan. Penyimpangan tidak hanya pada harga jual yang melebihi ketentuan resmi Rp 15.500/tabung di pangkalan tapi juga oleh perilaku pangkalan itu sendiri.

Seperti yang terjadi di Dukuh Grogol Desa Gatak Kecamatan Delanggu Klaten. Di tempat itu, satu rumah digunakan oleh 2 pangkalan berbeda. Menariknya, meski dilarang namun kondisi itu sudah berlangsung lama.

Rumah yang digunakan menjadi pangkalan itu persis berada dipinggir jalan menuju Stasiun Kereta Api Delanggu. Dua pangkalan LPG yang berkantor di sana yakni milik Sulistyono dengan agen PT Beny Putera dan milik Bayu Priyambodo dengan agen PT Riani Makmur.

Baca Juga :  Pembangunan Tower Seluler Dilaporkan ke Dinas

“Pangkalan milik Sulistiyono duluan ada mas,” kata pimpinan PT Beny Putera, Haryanto, S.Pd,

Haryanto berjanji akan mengecek lokasi dan memastikan apakah satu rumah dijadikan 2 pangkalan atau tidak. Dia juga mengatakan akan berkoordinasi dulu dengan pihak PT Riani Makmur untuk menyikapi hal itu.

Senada diungkapkan pihak PT Riani Makmur, Etik. Melalui layanan pesan singkat, dia mengatakan akan mengecek lokasi dan segera menindaklanjutinya.

DPC Hiswana Migas Surakarta melarang satu rumah dijadikan alamat atau kantor oleh 2 pangkalan LPG 3 kilogram. Apalagi barang yang disalurkan merupakan barang bersubsidi.

“Janganlah. Mosok satu rumah digunakan dua pangkalan,” kata Budi, Ketua DPC Hiswana Migas Surakarta.

Informasi warga sekitar menyebutkan, meski di lingkungannya ada dua pangkalan dalam satu rumah namun yang selalu buka hanya satu. “Yang buka cuma satu. Kami kalau beli juga 17 ribu rupiah per tabung,” kata warga yang tinggal di belakang pangkalan itu. (SM)

Baca Juga :  Bansos Rastra Diperpanjang Hingga Desember