SBY Akui Jogja itu Unik dan Khas

308
Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu (08/04/2018) malam, menyapa masyarakat di Angkringan Pendopo Lawas Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai Yogyakarta memiliki nilai historis dan peran vital yang demikian tinggi dalam perjalanan sejarah Indonesia. Termasuk saat peralihan dari masa Orde Baru ke Orde Reformasi.

Tatkala bernostalgia ke Yogyakarta, Minggu (08/04/2018) malam, di Angkringan Pendopo Lawas Kompleks Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, SBY mengenang masa lalunya ketika menjabat Danrem 072/Pamungkas tahun 1995.

“Saat itu saya sempat menjadi Danrem di sini dengan pangkat kolonel di tahun 1995.  Dan, saat itu transisi dari era Orde Baru ke Orde Reformasi. Ingat, tahun 1995 itu hanya sekitar tiga tahun sebelum reformasi,” ujarnya.

Seperti sejarah yang telah tercatat, kelahiran era reformasi tak lepas dari berbagai pergolakan di sejumlah daerah yang tidak puas dengan kepemimpinan Presiden Soeharto saat itu.

Namun, di Yogyakarta, suhu politik yang memanas tak dibarengi dengan kerusuhan atau anarki seperti halnya daerah lain.

“Inilah yang saya akui Jogja itu unik dan khas, baik dari segi politik, sosial, budaya dan juga hubungan antara negara, pemerintah dan rakyat. Banyak suka duka, kenangan pada waktu itu, di antaranya bagaimana berkomunikasi dengan mahasiswa (yang) sangat kritis, sangat dinamis dan kerap melontarkan kritik, baik yang halus sampai yang kasar sekali pun kepada pemerintah,” terangnya.

SBY mengenang, saat itu dwifungsi ABRI masih menjadi doktrin dan sistem yang mengakar kuat. Meski pendekatan militer cukup lazim digunakan saat itu, SBY selaku Danrem malah melakukan pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan dialogis.

“Pada siang hari para aktivis mahasiswa berdemo, melakukan unjuk rasa menginginkan perubahan A,B,C,D, tapi pada malam hari saya datangi mereka dan kami ajak berdialog. Di antara aktivis itu seperti Andi Arif, Heri Sebayang, AM Sapulete saya ajak bicara, dan akhirnya saya mengaku tidak bisa mencegah kebebasan mereka berekspresi untuk menuntut perubahan,” papar dia.

Meski kelahiran era reformasi tak bisa ditolak, SBY saat itu menilai, Yogyakarta tidak sampai larut terlalu dalam ketika kerusuhan atau aksi anarki yang sempat meluas di Indonesia pasca kejatuhan Soeharto. Aksi kerusuhan yang terjadi terbilang kecil dan dapat diredam.

“Saya mempersilakan (unjuk rasa), tapi gentlemen agreement yang kami buat dulu tak boleh melebihi kepatutannya, melanggar hukum dan menimbulkan gangguan keamanan. Alhasil, Jogja saat itu tetap dinamis, tapi tidak ada kekerasan apa pun di kota ini. Saya masih ingat, pendekatan saya saat itu dianggap keliru, dianggap terlalu lunak dan saya hampir dicopot jabatan saya, tetapi Pangdam saya membela,” kenang SBY yang didampingi istrinya Ny Ani Yudhoyono.

Hanya setahun di Yogyakarta, SBY pun kemudian mendapat mandat dan tugas baru sebagai pengamat militer di Bosnia. Jabatan sebagai Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia Herzegovina, memaksa SBY meninggalkan Yogyakarta, yang menurutnya meninggalkan banyak kenangan meski dalam waktu singkat.

“Yang membedakan masa lalu dan masa kini. Kalau masa lalu, stabilitas politik dan stabilitas ekonomi, menjadi prioritas, dan satu-satunya tujuan utama sehingga mengekang kebebasan berekspresi, demokrasi dan HAM. Tapi, di Era Reformasi saat ini berupaya memberi ruang kepada dua-duanya yaitu stabilitas ekonomi dan politik, juga kemajuan demokrasi dan kebebasan berekspresi,” tandas dia. (sol)