Sejak 1963 Fakum, ISRI Kini Aktif Lagi

264
Aktivis dan sarjana dari berbagai wilayah melakukan deklarasi dalam rangkaian pembentukan pengurus Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) di Yogyakarta, Sabtu (11/11/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Setelah fakum sejak tahun 1963, Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) mulai 11 November 2017 aktif kembali. Sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional ISRI adalah Prof Soetaryo, sedangkan Ketua Dewan Penasehat Prof Wuryadi dan Koordinator Dewan Kepakaran Dr Bambang Yudhoyono. Selain nama-nama ini, juga terpilih Prof Dr Sri Adiningsih yang juga anggota Watimpres sebagai anggota Dewan Kepakaran.

Jajaran pengurus DPN ISRI sendiri, terpilih dalam acara Deklarasi Pembentukan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia, Sabtu (11/11/2017) di Yogyakarta. Deklarasi dihadiri perwakilan dari berbagai daerah se-Indonesia.

Disela-sela deklarasi, Prof Wuryadi mengatakan rasa syukurnya ISRI telah kembali aktif dan siap untuk berjuang demi rakyat. Dia mengharapkan, jajaran pengurus langsung bisa bekerja dengan cepat, mengingat rakyat dan negara sangat membutuhkan dorongan para intelektual.

Baca Juga :  Kolaborasi Progresif Lintas Genre Hadir

Dalam arahannya, Prof Wuryadi meminta ISRI bekerja dengan mengacu pada tiga sasaran yakni Kedaulatan Politik, Kedaulatan Ekonomi dan Kedaulatan Budaya. Target tersebut diperjuangkan melalui tiga program aksi yakni pendidikan rakyat, persatuan dan kesejahteraan.

“Saya berharap ISRI tidak menjadi kelompok elite. Dalam pendidikan misalnya, ISRI harus dapat berbuat sesuatu untuk membenahi sistem pendidikan kita. Kita tahu pendidikan di Indonesia baru sebatas “mengajari” belum mendidik,” kata Wuryadi.

Menurut pakar pendidikan ini, mengajari dengan mendidik sangat jauh berbeda. Mengajari hanya sebatas membuat peserta didik mendapat ilmu dan mengetahuan. Sedangkan mendidik, ranahnya sampai pada bagaimana peserta didik dapat memanfaatkan ilmu dan pengetahuannya untuk kemaslahatan rakyat.

Hal yang sama juga terjadi di hampir semua bidang. Untuk itu, ISRI harus bekerja keras bahu membahu untuk berkontribusi dalam program pemberdayaan rakyat.

Baca Juga :  DPRD DIY Kecam Aksi Teror Bedog

Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam sambutannya mengatakan, berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, merupakan efekt dari krisis kepemimpinan yang terjadi di masyarakat. Maraknya kasus korupsi tidak lepas dari tipisnya moral keagamaan dan moral kebangsaan para pemimpin. Belum lagi pelaksanaan demokrasi yang nampaknya mulai kebablasan, dimana pendapat dan suara rakyat justru berpotensi memecah belah bangsa.

“Indonesia krisis pemimpin yang tegas. Karenanya revitalisasi kepemimpinan yang tegas, berwawasan global, dan berkarakter kebangsaan menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan. Dalam kaitan inilah, saya berharap, ISRI tidak hanya berhenti pada kegiatan seremoni belaka, tapi ini menjadi momentum strategis untuk membangun fungsi peran organisasi agar lebih produktif dan professional,” kata Gubernur. (*/sur)