Sejak Ditemukan Tahun 1915 Sendang Ini Tak Kering

425
Sendang Ngembel di Dusun Beji Wetan Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan Bantul terus ditata dan banyak dikunjungi wisatawan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sendang Ngembel merupakan telaga yang  berada di Dusun Beji Wetan Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan Bantul. Orang sering menyebut tempat ini dengan nama Sendang Beji.

Masyarakat sekitar mempercayai Sendang Ngembel  ini  ditemukan pada 15 Besar bulan Jawa tahun 1915 oleh Kiai Jalu Mampang.

Di tengah  sendang  ada pulau yang dipercaya sebagai penanda batas antara wilayah Mangir dengan  Kerajaan Mataram Islam. Tanda itu diletakkan oleh Ki Ageng Mangir Wonobudoyo.

Berdasarkan cerita, kala itu wilayah Sendang hanya ditinggali seorang janda bernama Nyai Sariti. “Setiap tanggal 15 Bulan besar dalam kalender Jawa selalu diadakan syukuran di Sendang Ngembel ini,” kata Jiriyanto, pengelola Sendang Ngembel yang juga anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa setempat.

Syukuran yang dikemas dalam bentuk kenduri itu dilengkapi sajian utama tumpeng sega megana. Syukuran dilakukan setahun sekali sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah air dari Sendang Ngembel yang mengairi sawah warga dan tidak pernah mengering.

Sampai kini, banyak orang datang berziarah dengan tujuan masing-masing. “Mereka datang dengan beragam tujuan.  Ada yang sengaja  ingin mensucikan diri, ada yang ngalap berkah dan banyak  tujuan lain,” ungkap Jiriyanto.

Pihaknya tetap berupaya agar kawasan tersebut dilestarikan dan dikembangkan. Ada juga juru kunci tempat ini dan selalu diajak berdiskusi terkait rencana pengembangan wisata di Sendang Ngembel.

Pengembangan ini sudah terlihat  sekarang manakala kita berkunjung ke tempat tersebut.  Air kolam yang berwarna kebiruan itu tampak dikelilingi tembok. Di sekitarnya ada pepohonan rindang.

Kolam seluas sekitar 200 M2 tersebut memang diberi tembok keliling pada bagian airnya, melalui program pembangunan spot wisata tahun 2015 dengan nilai mencapai Rp 500 juta.

“Kendati dibangun namun keaslian dan filosofi tempat ini tetap dijaga. Selain wisatanya, kita menjaga juga nilai sejarah dan spiritualnya,” katanya.

Kerajaan Mataram

Dulu sempat muncul usulan tambahan fasilitas bebek-bebekan namun pihaknya tidak bisa menyetujui karena diyakini Sendang Ngembel tak hanya sekadar tempat rekreasi, namun lebih  dari itu merupakan  saksi sejarah Kerajaan Mataram.

Jiriyanto tidak lantas menutup mata agar Sendang Ngembel dikembangkan sebagai spot wisata maupun tempat rekreasi. “Kalaupun ada pengembangan seyogianya di sekitar kolam,” katanya.

Misalnya berupa kolam air mini atau taman bunga. “Kolam mini ini tidak apa-apa, sumber airnya dari sendang, namun yang penting fasilitas permainan air tidak di Sendang Ngembel,” katanya.

Dia mengakui hingga detik ini pengelola belum bisa maksimal memanfaatkan lahan di sekitar sendang karena terbentur hak milik perorangan.

“Jadi kalau mau dikembangkan harus ada pembebasan lahan dan ini butuh campur tangan dari pemerintah,” katanya.

Tokoh masyarakat setempat, Joko Purnomo, mengatakan keberadaan Sendang Ngembel perlu dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata. Ini akan berdampak positif  bagi masyarakat sekitar. Seperti hadirnya para pedagang, petugas parkir, pedagang suvenir serta kuliner.

“Hanya saja pengembangannya tetap harus memperhatikan keinginan masyarakat sekitar, termasuk mempertahankan nilai-nilai sejarah dan budaya,” katanya. (sol)