Sejarah Letusan Gunung Agung Tidak Main Main

856
Ilustrasi

NAMA Gunung Agung selama ini memang jarang disebut, kecuali oleh mereka yang punya hobi mendaki. Maklum, gunung api di Karangasem, Bali ini, jarang menunjukkan keangkerannya dalam hal erupsi. Sangat jauh berbeda dengan Merapi, atau yang belakangan sedang banyak dibahas orang adalah Gunung Sinabung.

Aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, meningkat sejak 18 September 2017. Status gunung api itu secara bertahap naik dari level siaga menjadi awas pada 22 September. Hanya empat hari setelah kali pertama tercatat terjadi peningkatan aktivitas vulkanis.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebut Gunung Agung ialah gunung api yang berkatagori paling eksplosif di Indonesia. Bahkan daya ledak Gunung Agung, berdasarkan data jauh di atas Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Gunung ini, terakhir meletus pada 1963 setelah masa tidur yang super panjang 120 tahun. Dampaknya, luar biasa melebihi erupsi gunung-gunung yang lain.

Berdasarkan data, Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Pulau Bali. Dahulu setinggi 3.142 meter di atas pemukaan laut (Mdpl). Usai meletus tahun 1963, ketinggian gunung ini tinggal 2.920-3.014 Mdpl. Puncak Gunung Agung terletak di bagian barat daya, tepat di atas Pura Besakih.

Gunung vulkanik tipe monoconic strato ini, adalah gunung muda. Sangat jarang erupsi. Dalam catatan sejarah, gunung ini baru 4 kali meletus. Letusan terakhir di tahun 1963, setelah sempat tidur panjang selama 120. Periode istirahatnya yang paling pendek 13 tahun dan terpanjang 120 tahun.

Berikut informasi letusan Gunung Agung:

Baca Juga :  MAI Fondation Dampingi Dua Sekolah di Magelang

1808 – Pada tahun itu Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.

1821 – Gunung Agung meletus lagi. Letusannya disebut normal tetapi tak ada keterangan terperinci.

1843 – Gunung Agung meletus lagi, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

1963 – Gunung Agung meletus lagi dan dan tercatat berdampak sangat merusak. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Pola dan sebaran hasil letusan sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, di antaranya adalah bersifat eksplosif (letusan dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava.

Dua macam awan panas di Gunung Agung, awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar, bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunung api melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah.

Awan panas guguran adalah awan panas yang sering meluncur dari bawah puncak (tepi kawah). Walaupun tidak ada letusan, dapat terjadi awan panas guguran. Dapat pula terjadi apabila ada bagian dari aliran lava yang masih panas gugur, seperti pada waktu lava meleler di lereng utara.

BNPB dalam keterangan pers, Rabu (20/09/2017), menyampaikan, letusan pada 1963 memiliki 5 fase yaitu:

  1. Fase gejala (gempa terasa) tempat di bawah G.Agung
  2. Fase pembuka, letusan pembuka kemudian membentuk lava lake (danau lava)
  3. Erupsi pertama 14 km ke utara
  4. Erupsi kedua 10 km Ke arah selatan
  5. Letusan susulan yang cenderung lama.
Baca Juga :  Alhamdulillah, Revisi UU Terorisme Disahkan

Mengutip dari laman sejarahbali.com, pada tahun 1963, ketika gunung meletus, juru kunci gunung Agung tak mau mengungsi, bahkan hampir semua lelaki dewasa dari beberapa desa “menyambut” lahar tumpahan gunung Agung tersebut. Kisah ini seperti saat Mbah Marijan yang tak mau mengungsi saat Merapi meletus.

Berdasarkan buku yang dikarang Kusumadinata pada tahun 1979, gempa bumi sebelum letusan gunung berapi yang saat ini masih aktif tersebut terjadi pada 16-18 Februari 1963.

Selanjutnya tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola. 1963, Letusan dimulai tanggal 18-2-1963 dan berakhir pada tanggal 27-1-1964. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Daerah yang Terancam

Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling Gunung Agung tergantung pada arah angin. Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini, apabila terjadi letusan, potensi bahaya diperkirakan masih berada di area tubuh Gunung Agung yang berada di lereng Utara, Tenggara, dan Selatan gunung.

Sementara itu, ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara gunung, seperti di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di Selatan Gunung Agung berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar. Jika erupsi efusif berupa aliran lava Gunung Agung.(berbagai sumber)