Sejumlah 270 KK Perajin Gerabah Terancam Bangkrut

367
Eko Suryanto, perajin gerabah Dukuh Pagerjurang Desa Melikan Wedi Klaten memproduksi wajan. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID —  Desa Melikan Kecamatan Wedi Klaten dikenal sebagai desa wisata sentra perajin gerabah. Tercatat sekitar 270 Kepala Keluarga (KK) yang menggeluti usaha tersebut sejak ratusan tahun lalu.

Sayangnya, usaha mereka terancam bangkrut akibat masalah bahan baku tanah liat yang telah terjadi beberapa tahun terakhir.

Untuk mengatasi permasalahan bahan baku yang dihadapi perajin, Pemerintah Desa Melikan membebaskan lungguh perangkat untuk diambil tanahnya menjadi bahan baku gerabah.

Namun usaha itu diperkirakan hanya akan bertahan beberapa tahun ke depan meski warga boleh mengambil secara gratis.

“Pak kades memperbolehkan lungguh-nya diambil secara gratis untuk kebutuhan bahan baku gerabah. Belinya kepada tenaga yang mengantar saja,” kata Sukanta, Sekdes Melikan.

Biasanya satu colt tanah hanya diganti dengan ongkos kirim Rp 100 ribu. Sedangkan satu gerobak cukup dengan Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu saja karena jaraknya sekitar 300 meter.

Baca Juga :  Homestay Tidak Cuma Jual Kamar

“Tapi itu pun kami perkirakan hanya bisa bertahan antara 4 hingga 5 tahun ke depan. Harapan kami sebelum 5 tahun sudah ada solusi agar perajin gerabah bisa tetap berproduksi,” jelasnya.

Untuk mengatasi permasalahan bahan baku, Pemdes Melikan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian Jawa Tengah untuk memanfaatkan lahan milik Perhutani seluas 1,8 hektar di wilayah Wedi.

Namun hingga kini belum ada persetujuan dari Perhutani boleh tidaknya lahan mereka diambil jadi bahan baku gerabah.

Selain itu, Pemkab Klaten juga diminta proaktif mencari solusi atas masalah bahan baku gerabah yang dihadapi perajin.

Semakin langka

Di Desa Melikan ada 270 KK yang bermata pencaharian sebagai perajin selama ratusan tahun dan 30 KK lainnya di Desa Paseban Bayat.

Baca Juga :  Ini, Cara Ponpes Islamic Center Binbaz Tanamkan Karakter Cinta Tanah Air

Jika masalah ini tidak segera diatasi maka dikhawatirkan gerabah di Melikan dan di Klaten akan semakin langka.

Seorang perajin gerabah, Eko Suryanto, mengakui saat ini para perajin sedang dihadapkan masalah bahan baku tanah. “Tanahnya susah. Saya beli satu colt Rp 180 ribu. Itu pun kualitas tanahnya kurang bagus karena berpasir,” ujarnya.

Eko yang tinggal di Dukuh Pagerjurang Melikan menekuni gerabah sejak kecil. Dirinya memproduksi wajan karena banyak pesanan.

Dalam sehari dia bisa memproduksi 30 wajan dengan harga Rp 20 ribu per unit. Wajan yang dia produksi biasanya dipesan oleh konsumen. (sol)