Sejumlah Luweng Jadi Tempat Pembuangan Sampah

431
Umat Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari melakukan pengecekan kawasan luweng di Kecamatan Tepus. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bencana banjir di Kabupaten Gunungkidul yang terjadi beberapa bulan lalu diharapkan tidak terulang lagi.  Untuk mencegah banjir, Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari melakukan gerakan pelestarian luweng di sejumlah lokasi.

Romo Rosarius Sapto Nugroho Pr mengatakan, saat melakukan pendataan di sejumlah lokasi banjir pihaknya menemukan luweng beralih fungsi sebagai tempat pembuangan sampah.

Padahal luweng adalah resapan air alamiah dan sebagai salah satu sistem alami. “Sudah banyak yang berubah fungsi. Ini yang menyebabkan sistem alam air ke perut bumi tidak bisa lancar,” kata Romo Sapto, Selasa (09/01/2017).

Luweng banyak yang tertimbun tanah dan dedaunan sehingga air sulit masuk dan terjadi genangan. Bersama relawan tim kerja pelayanan kemasyarakatan Paroki Wonosari kini tengah gencar menjalin kerja sama dengan seluruh masyarakat untuk menggagas kegiatan pelestarian luweng.

“Kondisi luweng banyak di sekitar hunian permukiman warga, ladang, dan pegunungan, banyak tidak diketahui fungsi dan cara kerja alam,” ucapnya.

Baca Juga :  Perajin Genteng Godean Sepakat Pakai Merk Kolektif

Salah satu lokasi yang dilakukan pengembalian fungsi luweng di RT 3 Dusun Blekonang, Desa Tepus. Kegiatan swadaya pengembalian fungsi luweng dilakukan dengan gerakan gotong royong melibatkan semua masyarakat berbagai usia.

Tertutupnya luweng tersebut menyebabkan tujuh rumah warga terendam setinggi hampir 1,5 meter. “Akan terus kami lanjutkan ke wilayah lain. Saat ini gerakan pelestarian luweng rencananya akan dilakukan di Dusun Kuwon Kidul Desa Pacarejo Kecamatan Semanu,” tuturnya.

Pendamping masyarakat Dusun Kuwon Pacarejo Semanu,  Agustinus Iman, mengatakan dari pendataan dilakukan Desa Pacarejo ini paling banyak ditemukan luweng yang tidak berfungsi baik akibat tertutup sampah dan tanah.

Pada bencana akhir tahun 2017, desa ini tercatat menjadi korban terparah dan jumlah pengungsian terbesar di Gunungkidul yakni mencapai 400 keluarga karena rumah terendam genangan air. “Kami sudah dua kali musyawarah dengan warga untuk menyiapkan gotong rotong” jelasnya.

Baca Juga :  1.225 Calon Jamaah Haji Sleman terbagi 4 Kloter

Sementara, tim kerja pelayanan kemasyrakatan Paroki Wonosari, Endro Tri Guntoro, menambahkan gereja dan umat Katolik memiliki satu gerakan menjaga kelestarian bumi dengan fokus perhatian untuk merawat keutuhan ciptaan Tuhan termasuk luweng, bukit karst, gunung,  hutan, kualitas udara, kualiras air dan seluruh karya ciptaan Allah lainnya untuk kemakmuran bersama.

“Gerak pelayanan kemasyarakatan Gereja Katolik Wonosari saat ini juga tengah melakukan sinkronisasi data gagal panen pascabanjir yang tengah dirampungkan Pemkab Gunungkidul,” kata dia. (ryo)