Sejumlah Sekolah Mendesak Segera Digabung

54
Kondisi ruang perpustakaan SD Negeri Tegalampel Karangdowo yang rusak parah. (Massal Gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Kepala SD Negeri Karangdowo 2 Klaten, Siswanto, meminta agar sekolahnya segera bisa diregrouping agar ada pemerataan. SD Negeri Karangdowo 2 merupakan satu diantara 27 SD Negeri di Kabupaten Klaten yang diusulkan untuk diregrouping tahun ini.

Adapun alasan yang muncul, diantaranya karena faktor jumlah murid yang sedikit dan jumlah guru PNS yang juga minim.

“Di sini jumlah muridnya hanya ada 26 orang. Kelas 1 dan kelas 2 tidak ada murid. Sedangkan guru yang berstatus PNS ada tiga orang, termasuk kepala sekolah,” kata Siswanto kepada koranbernas.id.

Menurut dia, minimnya jumlah murid di sekolah yang dia pimpin dikarenakan keberhasilan program KB. Juga bermunculannya sekolah swasta dan keinginan orang tua menyekolahkan anak mereka di sekolah yang dianggap lebih berkualitas.

“Karena itulah harapan saya agar regrouping segera dilaksanakan biar ada pemerataan. Sebenarnya rencana diregrouping sudah diusulkan tapi tidak tahu kapan realisasinya,”ujarnya.

Siswanto menjelaskan saat ini SD Negeri Karangdowo 2 memiliki 26 murid terdiri dari 4 siswa kelas 3, kemudian 5 siswa kelas 4,  sebanyak 7 siswa kelas 5 dan 10 siswa kelas 6. Sedangkan untuk kelas 1 dan kelas 2 tidak ada murid sama sekali.

Baca Juga :  PPK Panggil Belasan Kepala SD Terkait Indikasi penyimpangan

Senada dikemukakan Kepala SD Negeri Bakungan 1 Karangdowo, Sih Indriyati. Kepada koranbernas.id, dia menceritakan jika sekolah yang dipimpin hanya memiliki 31 siswa. Kelas 2 dan kelas 4 tidak memiliki murid, sedangkan kelas 1 hanya ada 8 siswa, kelas 3 juga 8 siswa, kelas 5 ada 6 siswa dan kelas 6 dengan 9 siswa.

Meski minim murid namun SD Bakungan 1 tidak masuk yang diusulkan untuk diregrouping. Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten juga memiliki pertimbangan tersendiri untuk tetap mempertahankan keberadaan SD Negeri di setiap desa. Sekalipun bangunan dan sarana prasarana sekolah belum lengkap dan dalam keadaan rusak berat.

Begitupula dengan SD Negeri Tegalampel Karangdowo. Sekolahan tersebut memiliki 27 siswa dan SD negeri satu-satunya di Desa Tegalampel Kecamatan Karangdowo.

Koordinator pendidikan wilayah Kecamatan Karangdowo, Gunawan, tidak mengusulkan SD Bakungan dan SD Tegalampel diregrouping karena hanya satu-satunya sekolah di desa tersebut.

“Di wilayah Karangdowo ada empat SD Negeri yang diusulkan diregrouping. Yakni SD Negeri 3 Demangan, SD Negeri Karangdowo 2, SD Negeri Pugeran 1 dan SD Negeri Ringin Putih 2,” kata Gunawan.

Baca Juga :  SMP Kristen Juara FKR 2017

SD Negeri Demangan 3, SD Negeri Pugeran 1 dan SD Negeri Karangdowo 2 diusulkan diregrouping karena minim murid dan satu lokasi atau berdampingan dengan sekolah negeri lainnya.

Faktor lain mengapa SD Negeri yang memiliki jumlah murid sedikit tetap dipertahankan keberadaannya di setiap desa karena keinginan pemerintah desa, komite sekolah dan orang tua murid.

Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah bisakah SD Negeri dengan jumlah murid sedikit memperoleh bantuan seperti rehab bangunan, ruang perpustakaan dan bantuan lainnya. Sebab kenyataan di lapangan banyak sekolah yang minim murid yang kondisi bangunannya rusak berat justru dianaktirikan dan tidak pernah menerma bantuan apa-apa.

Ini terjadi di SD Negeri Bakungan Karangdowo dan SD Negeri Tegalampel Karangdowo. Selain kondisi bangunan yang rusak, kondisi sekolah itu dikabarkan sering mendapatkan perlakuan berbeda. Padahal mutu pendidikan dan lulusan dari kedua sekolah itu tidak kalah dibandingkan sekolah lain. (SM)