Sekali Memompa Air Butuh Biaya Rp 50 Ribu

101
Saluran irigasi di beberapa desa di Kecamatan Buluspesantren kering seperti tampak di Desa Bocor, Jumat (07/06/2018). (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Petani penggarap sawah berpengairan teknis di beberapa desa di Kecamatan Buluspesanten Kabupaten Kebumen, pada musim tanam padi kali ini harus merugi.

Kerugian yang diderita petani, karena sawah berpengairan teknis mereka, tidak kebagian air irigasi. Kerugian disebabkan menurunnya produksi padi dan naiknya biaya pemeliharaan tanaman padi.

Tukino (53) warga Desa Bocor, Kecamatan Buluspesantren, kepada koranbernas.id, Jumat (8/6/2018), menyatakan sawah di daerahnya sebenarnya sawah berpengairan teknis.
Namun, pada musim tanam padi sekarang, menjadi sawah tadah hujan, karena tanaman padi bergantung pada hujan atau petani memompa air tanah untuk membasahi sawah.

“Sekali memompa air saya keluar biaya Rp 50.000 untuk membeli pertalite, “ kata Tukino. Penggarap 100 ubin sawah atau 1.400 meter persegi ini, selama satu kali musim tanam padi membutuhkan 5 kali memompa air. Untuk keperluan memompa air butuh Rp 350.000, selebihnya untuk pembelian pupuk urea 1 kuintal.

Baca Juga :  Panser Tarantula Blusukan ke Desa Wonokerto

Hasil panen di saat tanaman kekurangan air, seperti saat ini, menurut Tukino paling banyak 1 kuintal. Sedangkan musim penhujan, ketika tanaman padi cukup air hasilnya bisa 9 kuintal.

Dengan hasil 1 kuintal, harga gabah kering panen hanya Rp 4.300 per kg. Hasil lain, hanya limbah tanaman padi, untuk pakan ternak, tetapi petani tetap merugi. “Ya hanya sekadar kerja, tapi merugi,“ kata Tukino.

Kepalda Bidang Sumber Daya Air, Dinas Perkerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kebumen, Supangat, menjelaskan terjadi pendangkalan saluran induk Wadaslintang Barat.
Pendangkalan terjadi antara Kaligending (Karangsambung) – Kemangguan (Alian). Akibat pendangkalan kapasitas menampung air berkurang, sehingga debit air yang dialirkan dari Waduk Wadaslintang dikurangi.

Baca Juga :  Pamong Desa Tuntut Dapat THR

Jika debit air ditambah, berisiko terjadi limpasan di saluran induk. Permasalahan ini telah disampaikan ke Balai Besar Wilayah Sungai Progo Bogowonto Luk Ulo. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut untuk mengurangi pendangkalan saluran induk.

Jika tidak terjadi pendangkalan, debit air dari Waduk Wadaslintang mencapai 9,3 meter kubik per detik. Kebutuhan air irigasi untuk bisa mengaliri sawah berpengairan teknis sampai Buluspesantren membutuhkan debit 3 meter kubik per detik.

Sekarang debit air untuk keperluan sampai Buluspesantren hanya 1,5 meter kubik, sehingga tidak bisa mencukupi seluruh sawah di kecamatan itu. (sol)