Sekolah Ini Banyak Lahirkan Pejabat

726
Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes melepas peserta jalan sehat HUT 9 Windu SMPN I Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — SMPN 1 Sleman menggelar berbagai acara memperingati HUT 9 Windu atau 72 tahun, Sabtu (27/01/2018). Kegiatan ini juga diikuti oleh para alumni di antaranya Dirjen Duk Capil Kemendagri Zudan Arif Fakrullah, Ketua DPRD Sleman dan pejabat  Sleman lainnya.

Rangkaian acara dimulai pukul 07:00, diawali jalan sehat diikuti oleh siswa, guru, karyawan, orang tua/wali murid, komite sekolah, para alumni dan masyarakat sekitar.

Peserta dilepas oleh Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang juga ikut berkeliling menggunakan mobil bak terbuka. Dia mengapresiasi sekolah yang banyak melahirkan tokoh dan pejabat itu, untuk mencetak lagi generasi cerdas yang akan menjadi kader-kader pemimpin bangsa.

Acara itu ditandai pemotongan tumpeng oleh Wakil Bupati Sleman serta penanaman pohon sawo kecik. Selanjutnya diisi pentas seni dari 21 kelas, menampilkan berbagai kreasi siswa mulai dari tari, gerak dan lagu, drama musikal.

Baca Juga :  “Perempuan Bertato Kura-Kura” Diluncurkan di Tembi Rumah Budaya

Di sela-sela pentas seni diadakan bazar dan pasar murah dari masing-masing kelas serta bakti sosial. Malam harinya digelar wayang kulit semalam suntuk oleh dalang di Anom Sucondro yang menampilkan lakon Dewa Ruci Mbabar Ngilmuning Panguripan. Pergelaran wayang ini dihadiri Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang menyerahkan tokoh wayang kepada dalang. Adapun bintang tamu Gareng Rakasiwi beserta Jonet.

Kepala SMP N I Sleman Hj Nurul Wachidah SPd  menyampaikan perkembangan teknologi komunikasi yang tidak terbendung turut mempengaruhi lunturnya apresiasi para siswa terhadap budaya lokal yang luhur.

Karena itu, semangat menjaga budaya leluhur serta menumbuhkan jiwa sosial dan solidaritas para siswa, menjadikan siswa berkarakter, cerdas dan mencintai lingkungan menjadi tema besar peringatan HUT 9 Windu SMP Negeri 1 Sleman.

Baca Juga :  Jamaah Haji Asal Yogyakarta Wafat

Menurut Nurul, para siswa saat ini harus diarahkan mencintai budaya leluhur, yang di kalangan sebagian remaja mulai terasa asing.

Salah satu pengaruh negatif dari laju perkembangan teknologi di era globalisasi adalah anak-anak muda lebih tertarik dengan game atau permainan di  gadget dibanding acara-acara seni budaya.

Kegiatan sosialisasi ataupun gerak badan siswa juga berkurang karena terlalu asyik dengan ponselnya. “Kami mencoba menggelar kegiatan-kegiatan positif agar siswa merasakan pengalaman berbeda,” ungkap Nurul.

Melalui acara-acara ini, para peserta didik bisa lebih peduli terhadap lingkungan dan sesama, bisa berlatih wirausaha serta daya kreativitas dan kesehatannya meningkat. (sol)