Sektor UMKM Senjata Ampuh Perangi Kemiskinan

237
Camat Drs Fatoni mengamati proses pembuatan sagon secara tradisional milik Wariyanto di Jalan Wonosari Km 7 Wiyoro RT 2 Desa Baturetno. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kecamatan Banguntapan memiliki banyak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Mengingat sektor ini  menyerap puluhan ribu tenaga kerja, mau tidak mau Pemerintah Kecamatan turut mendampingi dan menggenjot agar UMKM terus berkembang. Harapannya UMKM menjadi salah satu ‘senjata ampuh’ memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.

Tengoklah ada kerajinan perak di Desa Jagalan dan Desa Singosaren, ada olahan emping melinjo dan kerajinan alat rumah tangga berbahan aluminium di Desa Wirokerten dan potensi desa lainnya yang terus berkembang.

“Kita siap mendukung dan memfasilitasi, misal dengan mengikutkan mereka berpameran. Seperti Bantul Ekspo,” kata Camat Drs Fatoni saat melihat langsung pembuatan sagon tradisional milik  Wariyanto di Jalan Wonosari Km 7 Dusun Wiyoro Desa Wirokerten.

Dengan mengikutsertakan ke pameran, maka potensi ini akan semakin dikenal yang harapanya pesanan atau order kepada UMKM  di Banguntapan juga meningkat.

Sagon, menurut Camat Fatoni, sangat jarang ditemui, apalagi prosesnya sangat tradisional. Beras ketan yang masih baru  dan kualitas bagus digiling menjadi tepung. Kemudian dicampur parutan kelapa muda yang telah dikupas kulitnya terlebih dahulu plus gula pasir.

Adonan itu selanjutnya dikukus menggunakan cetakan di atas tungku berbahan bakar arang. Tidak hanya di sisi bawah saja, di atas cetakan juga diberikan lempengan yang diberi arang membara.

Dengan demikian panas dan matangnya merata. Tidak sampai 30 menit, sagon basah yang empuk nan lezat tersebut siap dinikmati.

Menurut Wariyanto, usaha tersebut sudah dirintis sejak simbah-nya dulu. Penggunaaan bahan bakar arang sengaja dipilih karena rasa yang dihasilkan lebih enak.

“Untuk tepung kita pilih yang baru agar bau makanan jadi harum,” katanya. Sehari dirinya mampu mengolah 5 kilogram beras ketan, setiap satu kilo bisa menjadi 15 loyang kecil sagon dan dijual dengan harga Rp 13.000 per loyang. Makanan ini banyak dibeli sebagai oleh-oleh.

Kerajinan rajut milik Denok Sri Wahyuni di di Dukuh Balong Lor Desa Potorono sudah sangat terkenal. (sari wijaya/koranbernas.id)

Usaha rajut

Sementara perajin rajut Denok Sri Wahyuni yang juga ibu Dukuh Balong Lor Desa  Potorono  mengatakan, usaha rajut yang didirikan sejak 2012 itu mampu menyerap 100 tenaga kerja terutama dari kalangan ibu rumah tangga. Tidak hanya di Bantul bahkan hingga Kulonprogo.

“Merajut ini bisa dibawa pulang pekerjaanya. Benang dan alat-alat termasuk mesin jahit kami yang menyediakan,” katanya. Dalam waktu sebulan, dia mampu menghabiskan benang monolon atau nylon hingga 1 ton dan menghasilkan 3.000 item barang mulai tas, dompet dan kerajinan.

Harga jual produk bervariasi karena memang banyak reseller yang mengambil dan dijual sesuai dengan brand masing-masing. Dari tempatnya, suvenir dijual mulai Rp 17.500 sudah termasuk boks, dompet mulai Rp 50.000 dan tas mulai Rp 250.000.

“Harga juga tergantung jenis benangnya karena kami menggunakan dua benang yakni reguler dan premium yang lebih mahal,” kata Denok yang awalnya bekerja di sebuah industri rajut sebelum membuka usaha sendiri. Usaha yang digeluti tersebut relatif lancar tidak ada kendala berarti. (sol)