Semoga Tidak Ganti Nama Lagi

Canda Rektor UMY Gunawan Budiyanto Saat Launching Prodi Ekonomi Syariah

202
Rektor UMY  Dr Ir Gunawan Budiyanto MP usai memukul gong menandai Launching Nomenklatur Baru Prodi Ekonomi Syariah FAI UMY, Kamis (30/08/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)  Dr Ir Gunawan Budiyanto MP, sempat bercanda saat melakukan Launching Nomenklatur Baru Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) UMY, Kamis (30/08/2018), di Lantai Empat Ruang Sidang Pascasarjana Kampus Terpadu.

Sesaat sebelum memukul gong menandai acara peluncuran sekaligus membuka seminar dan workshop nasional bertema Peluang dan Tantangan Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Syariah dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0, dia menyatakan semoga nama prodi tersebut tidak berubah lagi.

“Dengan ini kami kami resmikan nama Program Studi Ekonomi Syariah. Semoga tidak ganti lagi,” ujarnya disambut tawa mahasiswa serta dosen yang hadir di acara tersebut.

Saat menyampaikan sambutannya, Gunawan juga mengakui prodi ini memang suka berganti nama. Salah satu penyebabnya adalah kekacauan sistem birokrasi.

“Dulu pernah saya mengusulkan, agar sesuai momenklatur titel lulusan prodi ini SEPI,” ungkapnya. Namun karena dianggap kurang sesuai dan mungkin terkesan lucu, usulan itu tidak diterima. Kemudian ada lagi titel SEI (Sarjana Ekonomi Islam).

Seperti diketahui, ekonomi, keuangan dan bisnis syariah mengalami perkembangan pesat dalam dua dasarwarsa terakhir khususnya industri keuangan syariah. Di sisi lain, pangsa pasarnya masih rendah dan sumber daya manusia (SDM)-nya belum sharia minded.

Gunawan mengakui, ekonomi syariah perlu didukung big data mengingat pada era sekarang siapa yang menguasai data dialah pemenangnya.

Mestinya, label syariah yang sedang getol-getolnya di Indonesia dibarengi dengan kesungguhan, ketegasan dan konsistensi seperti halnya pemberlakuan label haram dan halal di luar negeri.

Launching nomenklatur baru Prodi Ekonomi Syariah kali ini merupakan awal yang baik sehingga ke depan UMY lebih mantap. Diharapkan pula sistem ekonomi syariah betul-betul bisa mengambil peran bagus di Indonesia.

Dekan FAI UMY Dr Akif Khilmiyah MAg menambahkan, perkembangan ekonomi perbankan Islam dimulai sejak 1998. Pada 2016 keluar aturan baru dari Kemenag, lulusan prodi ini harus bertitel SH (Sarjana Hukum). Sempat ramai dan menjadi perdebatan terbuka, pemerintah melakukan peninjauan kurikulum.

UMY kemudian memprosesnya. Pada Februari 2018 Surat Keputusan  (SK) itu sudah diterima. “Ini hal yang patut kita syukuri karena mengurusnya tidak mudah. Pontang-panting ke Kopertis ditolak kemudian ke Dirjen,” ujar Akif Khilmiyah.

Dia sepakat, ekonomi syariah di Indonesia harus maju seperti halnya Malaysia. Untuk itu, kalangan regulator, akademisi maupun praktisi harus benar-benar mencermati perkembangan pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang ekonomi dan bisnis syariah era revolusi industri 4.0.

Hal ini dimaksudkan supaya ekonomi syariah benar-benar memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia.

Adapun perguruan tinggi sebagai pemasok SDM bidang ekonomi syariah dituntut mengkaji ulang profil lulusan yang disiapkan, supaya sesuai dengan tuntutan industri.

Kurikulum dan proses pembelajarannya pun harus mampu merespons kebutuhan industri keuangan syariah. (sol)