Seniman Banyumas Luncurkan Album “Bingkai Nusantara”

139
Penampilan group musik Ujung Kuku saat peluncuran album “Bingkai Nusantara” di Purwokerto, Kamis (15/o3/2018) malam. (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Puluhan seniman dari berbagai genre  di Kabupaten Banyumas beraksi saat Pagelaran Seni Budaya sekaligus peluncuran album Bingkai Nusantara, di halaman parkir Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kamis (15/03/2018) malam. Mereka menyatukan keberagaman dalam satu pementasan.

Di bagian awal, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Art Dance Club menyuguhkan tari modern sebagai pembuka. Lalu disambung penampilan gitaris blues asal Banyumas, Gendhit, yang membawakan satu materi pada album bertajuk Sketsa Hidup dan band indie Ampas Kopi yang membawakan lagu Ayo Kawan.

Semakin malam, giliran vokalis grup Keroncong Mbeling Ambar, berkolaborasi dengan cellis (pemain cello) Yono, gitaris Iskandar dan violis Pandu menampilkan aransemen lagu Anjing Galak mengantarkan penampilan Ujung Kuku yang menggarap lagu Manusia Pasti Bisa, Penari Kecil, Kosong, Renungan Pagi dan ditutup dengan lagu Bingkai Nusantara.

Di sela aksi panggung mereka, pegiat Teater Si Anak Fisip Unsoed dan Komunitas Sedulur Pantomim Purwokerto (SPP) menggelar teaterikal.

Baca Juga :  Esensi Puasa Itu Kendalikan Nafsu

Sementara tiga perupa muda dari UKM Senru IAIN Purwokerto, menggarap lukisan di atas panggung. UKM Fotografi “Refleksi” memajang karya di sela suara barista meracik kopi-kopi lokal dari Komunitas Juguran Kopi.

Lukisan karya Senru itu sendiri langsung dilelang. Hasilnya disumbangkan kepada korban bencana alam di Brebes dan Banjarnegara.

Pentolan Ujung Kuku, Sendy Noviko mengatakan, album Bingkai Nusantara terinspirasi dari peristiwa pemilihan presiden tahun 2014. Hajatan politik ini memunculkan dua kubu entitas hingga berimbas pada masyarakat kecil.

“Keberagaman bangsa ini terusik hanya karena proses politik. Kami ingin menyatukan dalam sebuah pementasan,” katanya.

Pergelaran kali ini juga diisi talkshow bersama pelaku seni, pekerja kreatif hingga dosen di Purwokerto. Mereka membahas persoalan keberagaman, proses kerja kreatif dan bedah karya seni.

Baca Juga :  Anak-anak Tirukan Gerakan Ayam

Sementara itu, pegiat komunitas pantomim, M Fahmi,  mengatakan bangsa ini harus kembali belajar mengakui perbedaan yang sudah ada sejak masa nenek moyang. Hal itu menjadi kekayaan, keunikan dan kekuatan Indonesia. “Perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan,” katanya (sol)