Seniman Imogiri Butuh Ruang

401
Seni doger asal Imogiri kerap tampil di berbagai kesempatan dan sangat membutuhkan dukungan agar terus bisa eksis dan berkembang. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kecamatan Imogiri merupakan salah satu gudang seniman di Kabupaten Bantul. Tidak kurang 300 seniman tinggal di wilayah ini dengan berbagai latar belakang cabang seni yang mereka tekuni. Ada jatilan, seni doger, ketoprak, srandul,karawitan dan jenis seni tradisi yang lain.

Hanya saja, masih ada hal yang menjadi kendala bagi para seniman tersebut yakni terbatasnya ruang bagi mereka untuk tampil dan berkreasi. Juga keterbatasan dukungan dana, sehingga tidak jarang saat pentas mereka justru harus merogoh kantong sendiri untuk keperluan pementasan.

” Mereka sangat terbatas kemampuan dalam mengakses dana ke pemerintah. Sehingga tidak jarang untuk pentas mereka mengeluarkan biaya sendiri. Misal pada seni ketoprak,”kata tokoh seniman asal Imogiri, Agus Setyawan yang akrab disapa Agus Lemu kepada koranbernas.id, Rabu (1/11/2017).

Selain itu, lanjutnya para seniman belum memiliki tempat atau panggung tetap yang memadai, serta sulitnya regenerasi. Misal pada seni srandul yang saat ini banyak dimainkan oleh orang tua.

“Untuk itulah kami berusaha untuk memfasilitasi agar seniman bisa berkumpul dan bertemu dengan pihak terkait agar persoalan bisa terurai,”kata Agus yang merupakan ketua teater payung 1986 i danwajahnya wara wiri di televisi nasioal sebagai bintang sinetron ini.

Diantaranya beberapa waktu lalu untuk pertama kalinya telah digelar sarasehan semua seniman Imogiri bersama Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto SH MM dan juga jajaran Muspika Imogiri. Dalam sarasehan di gedung serbaguna Karangtalun tersebut berbagai uneg-uneg dan ganjalan yang dihadapi seniman tersampaikan.

Sementara Rohmad Yudi seniman ketoprak dari sanggar Kridho Budoyo, Dusun Mojolegi, Desa Karangtengah mengakui memang mereka terkendala dalam pementasan.

“Bahkan beberapa waktu lalu saat kami pentas ketoprak, kami patungan masing-masing Rp 250.000 oleh 13 pemain,” katanya.

Biaya tersebut untuk sewa kostum dan keperluan lain. Beruntung kala itu teater Payung
1986 mendampingi sehingga didapatkan bantuan tata panggung dan lighting yang memadai sehingga pentas bisa berjalan dengan lancar dan penonton membludag.

Sedangkan Lurah Karangtalun, Wiyono mengatakan di tahun 2018 akan dibangun panggung permanen di eks pasar Imogiri (Imogiri lama,red) senilai Rp 750 juta. Saat ini proses sedang berjalan dan nantinya panggung akan dilengkapi pula dengan jogging track dan keperluan pendukung pentas lainnya.

Senada Sunarto SH MM mengatakan Dinas Kebudayaan memberikan dukungan bagi perkembangan seni dan tradisi yang ada di Bantul. Untuk itu grup seni bisa mengajukan bantuan dana untuk pementasan dan pengembangan seni, tentu sebelumnya bisa melakukan registrasi ke Dinas Kebudayaaan Bantul.

“Silahkan kami siap memberi dukungan dan pendampingan,’katanya. (yve)