Serunya Lomba Nglarak Blarak Diiringi Gamelan

319
Lomba nglarak blarak di Alun-alun Wates, Minggu (20/08/2017). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Olahraga tradisional nglarak blarak di Kulonprogo makin disukai oleh masyarakat. Terbukti Minggu (20/08/2017) di Alun-alun Wates, ribuan orang penonton memadati acara lomba nglarak blarak antarkecamatan. Lomba itu sendiri berlangsung seru dan sangat meriah.

Yang menarik, jalannya lomba juga diiringi gamelan Jawa. Tatkala salah satu tim memenangkan lomba, pemain beserta suporter langsung menari dan bersorak, diiringi musik gamelan.

Asih Suprapti, salah seorang peserta lomba mengaku sangat menikmati permainan nglarak blarak. Sejak lama timnya melakukan persiapan mental, kekompakan dan membangun semangat yang luar biasa besar. “Menang-kalah dalam pertandingan harus ada. Semua mengalami.  Yang penting adalah membangun semangat dan kebersamaan,” ujarnya.

Asih dalam permainan itu sebagai penumpang blarak. Dia juga yang bertugas merebut bumbung di tengah lapangan. “Permainan ini adalah ikon Kulonprogo, kami ingin melestarikannya. Seru,” ujar anggota  kontingen dari Kecamatan  Kokap ini.

Dalam festival itu tim dari Sentolo menjadi juara pertama. Juara kedua dari Wates dan ketiga diraih tim yang mewakili Kecamatan Pengasih.

Baca Juga :  Kesejahteraan Guru Perlu Dipikirkan

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, saat membuka lomba itu menjelaskan, permainan nglarak blarak dapat dimaknai sebagai olahraga prestasi, seni budaya bahkan mengandung filosofi serta simbolisasi semangat mewujudkan kesejahteraan. Nglarak blarak  melatih kebersamaan, kecakapan berpikir, tidak cengeng, berani, jujur dan sportif.

“Puluhan tahun silam di Kulonprogo ada permainan lomba orang naik pelepah batang daun jambe yang diseret. Permainan itu dilakukan ketika orang atau anak-anak mencari rumput pakan ternak. Atau di sela-sela orang menderes nira di daerah Kokap,” ungkapnya.

Permainan tersebut kemudian dimodifikasi sehingga kini menjadi menarik, tidak kalah menarik dari gobag sodor. “Sekarang ini nglabrak kita maknai pula dengan semangat nglabrak (melabrak) kemiskinan, nglabrak kebodohan menuju kesejahteraan, menuju kemakmuran Kulonprogo,” ujar bupati.

Hasto menambahkan, permainan tradisional merupakan salah satu karakter dan ciri kebudayaan lokal dari Indonesia. Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur dan perlu diwariskan kepada anak-anak generasi penerus.

Baca Juga :  Ganti Rugi Tanah Bandara Harus Selesai Maret, Ini Warning Sultan

Pada event lomba olahraga tradisional di Palembang Sumatra Selatan, nglarak blarak menjadi juara pertama nasional. Bahkan pada ajang Festival Olahraga Tradisional Tingkat Internasional The Association For International Sport for All (TAFISA) World Games 2016, juga menjadi juara.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo, menjelaskan festival yang diikuti 12 perwakilan kecamatan ini diselenggarakan dengan sistem gugur. Satu tim berisi enam orang, terdiri dari tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki.

Pemkab berharap, kegiatan ini bisa dilaksanakan berkesinambungan agar masyarakat bisa senantiasa melakukan dan melestarikan permainan tradisional Kulonprogo. “Nglarak blarak juga menjadi media memupuk rasa kebangsaan, rasa persatuan dan kesatuan di antara kalangan anak muda,” kata Untung. (wid)