Sidomulyo Sentra Wisata Pisang, Mulyodadi Gayam

543
Lurah Sidomulyo Edi Murjito SPd menunjukkan kebun pisang yang dikembangkan di desa ini. (sari wijaya/koran bernas.id)

KORANBERNAS.ID – Desa Sidomuyo sudah sejak beberapa tahun terakhir konsens mengembangkan tanaman pisang dengan memanfatkan lahan pekarangan milik warga yang belum maksimal digunakan. Setidaknya dari 16 pedusunan, 8 pedusunan difokuskan untuk pengembangan tanaman pisang.

Lurah Edi Murjito SPd mengatakan tahun 2018 ini pihaknya berencana membuat kebun pisang terpadu di wilayah Dusun Ponggok menggunakan lahan seluas 500 meter persegi yang akan ditanami beragam jenis pisang seperti raja, koja, kapok, ambon dan uter.

Di desa tersebut juga dikembangkan pelatihan olahan pisang, bukan hanya buahnya namun juga olahan keripik bonggol pisang, kerupuk kulit  pisang hingga daunnya yang bisa diolah menjadi dawet nan lezat.

Juga sudah berdiri kelompok-kelompok pengelola olahan pisang di desa ini. “Jadi nanti Sidomulyo akan berkembang menjadi sentra wisata pisang. Orang saat datang bisa melihat beragam tanaman pisang, cara menanam, hingga cara mengolahnya. Juga bisa membawa pulang oleh-oleh dari olahan pisang tadi,” katanya.

Pihak desa sendiri mendukung pengembangan budidaya pisang dengan memberikan bantuan bibit. Di tahun 2017 dianggarkan Rp 8,5 juta dan tahun ini dianggarkan Rp 10 juta bahkan akan ditambah lagi hingga Rp 15 juta.

“Nanti bibit tersebut akan diberikan kepada warga di Sidomulyo untuk ditanam dan dipelihara. Bertanam posang memberikan keuntungan secara ekonomis,” kata Lurah Edi seraya menambahkan dengan  pisang lingkungan lebih hijau.

Kegiatan tanam pohon Gayam di Desa Mulyodadi Bantul. (istimewa)

Gayam

Lain Sidomulyo lain pula Desa Mulyodadi. Di desa ini  sekarang sedang dikembangkan tanaman Gayam dan menjadi ikon desa. Buah bernama latin Inocarpus fagiferus bisa dimanfaatkan untuk panganan namun harus diolah dulu, tidak bisa  langsung dikonsumsi begitu petik dari pohon.

Di Mulyagodi ribuan tanaman gayam mudah dijumpai  di pekarangan, kebun maupun pinggiran sungai. Ada beragam jenis Gayam  yakni gayam kerikil, gayam lumut dan gayam endhog dengan kelebihan masing-masing.

Tanaman langka ini dikenal juga mampu mempertahankan keberadaan air. Kayunya merupakan jenis kayu bakar istimewa dengan getahnya yang mudah terbakar dengan  bentuk pokok batang yang mblimbing.

Daunnya yang lebar dan bersentuhan satu sama lain ternyata diminati untuk tinggal dan berkembangnya jenis semut merah besar yang masyarakat setempat menyebutnya semut angkrang.

Dari hewan ini  biasanya diambil telurnya untuk pakan burung. Daun gayam muda dapat dimasak sebagai sayuran. Buah gayam diolah menjadi aneka pangan dan minuman yang lezat seperti gayam rebus, gethuk gayam, lemet gayam, tempe gayam, ceriping gayam dan susu gayam.

Tempe gayam sangat prospektif menggantikan tempe kedelai yang bahan bakunya masih impor. Tanaman gayam ini sudah diakui dunia internasional sebagai The Ark of Taste — Cita Rasa Asli Indonesia.

“Melestarikan tanaman gayam merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Desa Mulyodadi,” kata Lurah.  (sol)