Sinergitas Dunia Industri dan Kampus Hasilkan FTLC

189
Penandatangan kerja sama program FTLC antara Universitas Sriwijaya dengan JFX, PT KBI dan PT RFB pada Jumat (13/10/2017) lalu di Palembang yang disaksikan oleh Kepala Bappebti, Bachrul Chairi.(istimewa)

KORAN BERNAS.ID — Jakarta Futures Exchange (“JFX”), PT Kliring Berjangka Indonesia Persero (“KBI”), PT Rifan Financindo Berjangka (“RFB”) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Sriwijaya (“UNSRI”) pada Jumat (13/10/2017) di Kampus Bukit Besar.

MoU ditandatangani oleh Rektor UNSRI Prof Anis Saggaff, MSCE, Dirut JFX Stephanus Paulus Lumintang, Plt Dirut KBI Fajar Wibhiyadi, dan Direktur Utama RFB Ovide Decroli. dan disaksikan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementrian Perdagangan RI, Bachrul Chairi.

Kerjasama itu menghasilkan suatu wadah edukasi bernama Futures Trading Learning Center (FTLC). FTLC menjadi pusat kegiatan pembelajaran dan pemahaman dini perihal industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) bagi kalangan sivitas akademika (bagi mahasiswa maupun staf pengajar).
FTLC menyelenggarakan ragam kegiatan yang bersifat edukatif yang praktis, seperti kuliah umum, seminar/lokakarya, kompetisi online trading, kompetisi penulisan artikel tentang PBK, hingga proposisi subjek mata kuliah PBK ke dalam kurikulum kampus.

FTLC adalah salah satu bentuk perwujudan kepedulian dan tanggung jawab JFX dalam inisiatif edukasi dan sosialisasi PBK di Indonesia, yang sesuai dengan amanat UU No 10/2011 tentang PBK (amandemen dari UU No.32/1997).

Infrastruktur berupa ruangan untuk FTLC disediakan oleh pihak kampus UNSRI.. Sementara perangkat infrastruktur pendukung disediakan oleh RFB, termasuk sumbangan literatur berupa buku tentang perdagangan berjangka ditambah dengan kegiatan edukasi regular ke pos FTLC yang melansir sejumlah staf pengajar (trainer) untuk menyampaikan informasi, trading knowledge, know-how serta best practices PBK bagi para sivitas akademika UNSRI. JFX dan KBI berpartisipasi aktif dalam menjaga konsistensi, sustainabilitas dan progres kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung di FTLC tersebut.

Baca Juga :  Pengecatan Pasar Darurat Terkesan Misterius

Kepala Bappebti, Bachrul Chairi, dalam kesempatan tersebut berpesan kemajuan industri dan perekonomian suatu negara sangat tergantung pada kualitas dan integritas dari SDM yang dihasilkan oleh suatu institusi pendidikan. Dalam proses pendidikan tersebut, industri merupakan suatu elemen yang menjadi kontributor keilmuan dalam hal best practices bagi lembaga pendidikan.

“Kemitraan strategis antara kampus dan Industri akan menghasilkan sinergi yang positif bagi industri PBK secara khusus dan perekonomian secara umum. Saat ini Bappepti telah mengeluarkan sertifikat pialang saham bursa berjangka komoditi sekitar 2.500 orang, jumlah ini belum ideal untuk negara sebesar Indonesia. Seharusnya bisa dua kali lipatnya,” ungkapnya.

Sementara Anis Saggaf mengungkapkan, pihaknya menyambut baik sinergi antara dunia pendidikan dan industri.

“Kehadiran laboratorium Futures Trading Learning Center (FTLC) ini sesuai dengan konsep kampus modern saat ini yakni, menempatkan komposisi 30 persen untuk praktek lapangan yang diberikan langsung oleh praktisi hingga pemangku kebijakan,” paparnya.

Baca Juga :  Dua Ahli Waris PNS Ini Terima Tali Asih

Paulus menambahkan, UNSRI merupakan kampus yang ke-20 di Indonesia yang memiliki wadah FTLC.

“Selanjutnya FTLC juga akan dibuka di beberapa kampus negeri dan swasta di Surabaya, Jakarta dan Bali. Target JFX dan KBI sepanjang tahun 2017 adalah sebanyak 22 FTLC,” ungkapnya.

CBO PT Rifan Financindo Berjangka, Teddy Prasetya mengatakan, pengenalan industri PBK dilakukan juga di lingkungan kampus melaluu kerjasama dengan UNSRI. Harapannya agar dunia pendidikan terutama mahasiswa dapat mengenal dan memahami tentang industri PBK sehingga banyak SDM dari kampus yang turut serta membesarkan industri ini.

“Semoga kurikulum khusus PBK bisa masuk di universitas Sriwijaya terutama fakultas ekonomi serta universitas lainnya. Kami percaya SDM adalah aset utama pertumbuhan suatu industri. Ke depan diharapkan lebih banyak peran para mahasiswa, sarjana dan pasca sarjana yang menulis dan melakukan penelitian di bidang PBK,” ungkapnya.

FTLC adalah bridge antara kampus sebagai ranah para akademisi dengan industri sebagai ranah para praktisi. Keberadaan FTLC merupakan enabler harmonisasi antara dunia pendidikan yang menyediakan SDM dengan industri yang menyediakan lapangan pekerjaan. Keberadaan FTLC di kampus akan memperkecil perception gap yang selama ini terjadi di antara industri dengan pendidikan, khususnya industri PBK. (*/yve)