Siswa Ini Jago Mengolah Bola di Lapangan Hijau

261
Dwi Kurniawan. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID – Usianya baru 14 tahun.  Lahir 11 April 2003. Tapi badannya kokoh, tegap dengan tinggi 170 senti jauh di atas tinggi rata-rata anak seusianya.

Namanya Dwi Kurniawan, kini kelas VIII SMP Negeri 13 Minggiran Kota Yogyakarta. Di sekolah yang punya pelajaran olahraga lebih dari sekolah yang lain itu, dia memilih cabang olahraga sepakbola. Bersyukur dari banyak pendaftar, melalui tes dia lolos. Padahal satu angkatan hanya diambil 11 murid untuk cabang olahraga itu.

Dwi memang punya bekal menuju ke sana. Sejak kelas 2 SD Negeri Golo dia belajar sepakbola secara lebih terarah di Sekolah Sepak Bola (SSB) Browidjojo. Kebetulan home base SSB itu di lapangan Sidokabul dekat rumahnya. Jadi sejak kecil dia sudah terbiasa melihat sepakbola.

Entah nama Dwi Kurniawan itu diberikan oleh ayahnya (kini sudah almarhum) ada kaitan dengan kekaguman terhadap pemain sepakbola Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto asal Magelang yang sempat “mendunia” atau tidak. Yang jelas anak bungsu dari dua bersaudara itu kini tumbuh sebagai pemain sepakbola praremaja.

“Saya tidak tahu apakah dulu bapak saya suka dengan permainan sepakbola. Karena sibuk dengan pekerjaan dan kerap sekali ke luar kota,” kata Dwi menjawab pertanyaan Koran Bernas, Minggu (13/08/2017) sore, di dekat lapangan Sidokabul.

Dwi berhasil masuk SMPN 13 antara lain berkat prestasinya bersama SSB Browidjojo. Di antaranya berlaga pada Piala Danone di Semarang, piala Menpora di Solo, piala Asprov dan berbagai pertandingan di luar DIY. Isma, pelatih di SSB Brow melihat potensi Dwi sehingga memotivasinya untuk maju. Bahkan karena kemampuannya mengolah bola di lapangan hijau, kini Dwi sering diikutkan pertandingan kelompok umur di atasnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Pemanfaatan TI untuk Pasarkan Produk UMKM

“Pak Isma berpesan agar saya rajin berlatih dan kelak akan bisa masuk kesebelasan Tunas Jogja,” kata pemain yang mendapat posisi gelandang atau penyerang ini. Menyadari masa depan sepenuhnya tergantung bagaimana dia mampu mengasah kemampuan, baginya, pesan itu ibarat cambuk.

Lebih berani

Di SMPN 13, dia merasa kemampuannya lebih terasah. Tiga kali seminggu ada pelajaran praktik sepakbola mulai pukul 06:00-08:00. Itu berarti harus berangkat dari rumah sangat pagi. Harus tertib mengatur waktu agar bisa istirahat cukup. Apalagi selain di Galas, kesebelasan sekolahnya, dia juga harus berlatih di Brow sore harinya, memperkuat kesebelasan itu bertanding di beberapa event.

“Di Galas sudah sering bertanding, tetapi masih di wilayah Jogja saja,” kata pengagum Ronaldo pemain top dunia dari Real Madrid ini. Sedangkan Manchester United (MU) sebagai kesebelasan favoritnya.

Perjalanan tumbuh kembang di sepakbola memang tidak berjalan mulus. Namanya anak-anak, pernah juga tergoda play station sehingga kendor. Beruntung Dwi punya pelatih Isma, yang terus memotivasinya.

Baca Juga :  Rayakan Idul Fitri dengan Guyub Rukun

“Saya pernah cedera engkel. Sakit sekali. Dua minggu tidak bisa latihan,” katanya. Dalam kondisi seperti itu, melihat teman-temannya berlatih di Sidokabul, dia sangat ingin bisa kembali ke lapangan. Akibat cedera, kemampuan passing-nya sempat menurun tetapi seiring berjalannya waktu pulih kembali.

Dwi merasa beruntung bisa masuk di SMPN 13. Di bawah pelatih Eko, anak-anak banyak memperoleh pelajaran teknik. Ini yang membuat Dwi merasa lebih percaya diri. Ditambah latihan di Brow, kombinasi ini menjadi andalan.

Setiap ada pertandingan sepakbola di televisi, Dwi selalu menyaksikan terutama yang jam tayangnya tidak terlalu malam. Dia juga senang mengamati perkembangan sepakbola nasional belakangan ini. Pemain nasional favoritnya adalah Boaz Solossa yang larinya sangat cepat. Kecepatan lari sangat dibutuhkan, selain teknik kemampuan mengolah bola. Dwi pun berusaha mengasah kecepatan larinya.

Siswa ini menyadari masih berada di fase menyemai diri. Perjalanannya untuk bisa menjadi seperti yang dilihatnya di layar kaca masih sangat jauh. Tetapi dia punya mimpi tinggi yang harus digapai lewat perjuangan berat.

Bersyukur, ibunya, Agustina Tyas yang sepeninggal suaminya  sendirian membesarkan dua anaknya, sangat mendukung. Meski dari sisi biaya, wanita yang bekerja di perusahaan garmen ini harus “terengah-engah”, tetapi demi masa depan anak bungsunya dia akan berjuang untuk bisa memenuhinya.  (arie giyarto)