Siswa SMPN 3 Bantul Nyoblos di Pemilos

719
Siswa SMPN 3 Bantul mengikuti Pemilos sebagai pembelajaran terhadap demokrasi. (Sari Wijaya/KoranBernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sebanyak 704 siswa yang menjadi pemilik hak suara di SMPN 3 Bantul menyalurkan hak pilihnya, Kamis (19/10) siang, dalam Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) di sekolah tersebut. Mereka terdiri siswa kelas VII hingga IX serta guru dan karyawan.
Adapun tiga kandidat yang bertarung untuk memperebutkan kursi ketua periode 2017-2018 ada tiga orang yakni Nadia Diah Rahmania kelas VIII B, Herna Mangku kelas VIII F dan Nadifatun Rahma kelas VIII G.
“Mereka yang hari ini dipilih telah melalui proses seleksi,” kata ketua panitia Eza Surya Iqmalia kepada KoranBernas.id saat memimpin Pemilos di sekolah yang terletak yang berlokasi di Dusun Peni, Desa Palbapang Kecamatan Bantul.
Tahapannya adalah setiap kelas mengirimkan perwakilan yang telah dipilih oleh wali kelas masing-masing hingga mencapai 36 peserta untuk mengikuti tes tertulis dan tersaring 22 peserta. Selanjutnya 22 peserta ini mengikuti seleksi wawancara yang dilakukan oleh 10 anggota tim terdiri guru dan pengurus OSIS inti lama. Kemudian mengerucut menjadi tiga orang calon yang sebelumnya telah menyampaikan visi dan misi di depan semua siswa dan guru saat pelaksanana upacara pada Senin (16/10) lalu.
“Dari kegiatan pemilos ini siswa merasakan tahapan demi tahapan seperti saat pemilu sesungguhnya. Ini adalah pengalaman yang berharga bagi para siswa untuk belajar berdemokrasi,”katanya.
Sementara Plt Kepala Sekolah SMPN 3 Bantul,Wakitri Spd, Msi didampingi guru PKn, Catur Adhy Purna mengatakan kegiatan Pemilos dilaksanakan untuk kedua kalinya di sekolah tersebut. Tahun lalu digelar secara mandiri dan tahun ini mendapat dukungan dari KPU Bantul berupa peminjaman alat untuk pencoblosan termasuk bilik suara serta pembekalan bagi guru dalam Training of Trainer (TOT).
“Kami berencana menjadikan Pemilos ini sebagai agenda tahunan karena begitu banyak manfaat yang didapatkan oleh siswa,”katanya.
Misal, siswa bisa merasakan langsung ‘atmosfer’ sebuah perhelatan demokrasi pemilu karena segala tahapan dalam Pemilos dilakukan nyaris sama dengan tahapan pemilu. Pembelajaran ini akan bermanfaat manakala mereka nantinya sudah memiliki hak pilih dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.
“Di sini siswa juga belajar bagaimana berorgaisasi karena semua panitia adalah siswa dibawah bimbingan para guru,”kata Wakitri. Panitia sendiri mengenakan busana tradisional saat pelaksanaan Pemilos sebagai wujud kecintaan kepada seni tradisi dan pelestarian budaya.
Sementara itu Catur menambahkan pelaksanaan Pemilos tidak menghambat pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Karena pemungutan suara dengan cara pencoblosan dilakukan secara bergilir antar kelas.
Dalam pelaksanaan yang masih agak bingung itu adalah kelas VII karena baru pertama kali ikut. Misalnya ada yang begitu namanya di panggil langsung masuk bilik suara, tanpa mengambil kertas suara terlebih dahulu sehingga kebingungan di dalam bilik. Maka disini kemudian guru dan panitia mengajari alur pemungutan suara sehingga siswa menjadi paham.
Apa yang didapat selama pelaksanan Pemilos menurut Catur akan sangat bermanfaat dalam pembelajaran demokrasi bagi siswa. Jika sebelumnya mereka baru mengenal secara teori, maka dengan Pemilos mereka bisa praktek secara langsung. (ros)