Sketsa Karya yang Belum Jadi, Siapa Bilang?

344

KORANBERNAS.ID — Pelukis Mulyana Gustama akan memamerkan karya-karya sketsanya di Tembi Rumah Budaya pada 14 Februari sampai 6 Maret 2018. Ada sekitar 40 sketsa karya alumni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Pameran tunggal bertajuk Bahasa Sketsa ini rencananya dibuka pengamat seni rupa dan pengajar ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, Rabu (14/02/2018) pukul 19:00.

Gustama kerap berpameran bersama, dan dua kali berpameran tunggal. Pelukis kelahiran Kudus ini sekitar setahun ini kembali ke Yogyakarta setelah lama bermukim di Jakarta.

Tak lama setibanya di Yogyakarta hingga sekarang, ia terus membuat sketsa di berbagai titik di kota ini yang penuh kenangan. Yang menarik, semua sketsanya dibuat secara on the spot atau diselesaikan di tempat.

Gustama menuliskan catatannya: Melalui garis dan goresan kuhadirkan cita dan cerita atau obyek yang ada di hadapanku. Tidak jarang emosiku terlibat di dalamnya. Ini semua karena memorable atas setiap benda. Dan kebahagiaan itu ada karena sesiapa merasakan hal yang sama.

Menurut A Barata dari Galeri Tembi Rumah Budaya, pameran ini menarik karena karya sketsa tergolong jarang dipamerkan di galeri, apalagi sebagai pameran tunggal.

“Jadi sketsa-sketsa Gustama mengisi kelangkaan itu. Pameran ini juga menunjukkan sketsa adalah karya seni rupa yang serius dan patut diapresiasi sebagaimana lukisan,” ungkapnya, Rabu (07/02/2018).

Barata menilai, sketsa-sketsa Gustama bukan sekadar coretan tinta. Subyek dan figur yang ditampilkan bukan saja proporsional dan merepresentasikan dirinya tetapi juga mengekspresikan greget senimannya.

Sketsa-sketsa ini terasa greget yang menghidupkan, dalam tanda kutip, subyek dan figur yang digambarnya. Sketsa-sketsa Gustama pada pameran ini menunjukkan kelayakannya sebagai karya seni rupa untuk dipamerkan, membalikkan pandangan bahwa sketsa adalah karya yang belum jadi.

Sketsa-sketsanya adalah karya seni rupa yang utuh dan selesai, dan siap dinikmati secara penuh. Barata juga mengapresiasi proses on the spot Gustama karena proses semacam ini terbilang jarang, lebih banyak seniman yang memilih untuk melukis di rumah atau studio.

“Barangkali proses on the spot ini juga menguatkan greget sketsa Gustama karena dibuat pada masa emosinya masih dalam durasi berkontak langsung dengan subyeknya, mungkin juga karena proses penyerapannya menjadi lebih intens.” katanya. (sol)