Sosok Seram Kejutkan Anak-anak di Kampung Nyutran

351
Aksi kesenian Buto Rampak di event Nyutra Budaya 2018. (Surya Mega/Koranbernas.id)

SEJUMLAH anak menjerit dan menelusup diantara kerumunan warga di Gang Warsokusumo, Nyutran Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Minggu (09/09/2018). Mereka menjauh dari gang tersebut. Menghindar dari sosok-sosok yang bagi mereka menyeramkan.

Anak-anak yang lebih kecil, memilih menyembunyikan wajah dalam gendongan orangtua yang justru begitu antusias melihat tingkah polah 8 sosok seram di sepanjang gang ini.

Inilah gambaran dari Nyutra Budaya 2018. Gelar budaya tersebut berlangsung di gang yang membelah kampong Nyutran di Tamansiswa Yogyakarta. Warga Nyutran, tua muda, dewasa dan anak-anak,  laki perempuan berkerumun di sepanjang gang untuk menyaksikan tetangga mereka unjuk kebolehan dalam berbagai pertunjukan seni.

Berbagai bentuk kesenian dipentaskan. Menurut Ketua Harian Nyutro Budoyo, Sarto Wahono, selain Seni Keprajuritan, juga ditampilkan aksi Buto Rampak, Tari Jathilan, Wayang Kulit dengan dalang remaja yang pernah berprestasi di tingkat nasional, Tari Gambyong, Tari Golek, Seno Dolanan Anak, serta Gamelan Pendidikan dan Langen Carita sebelum ditutup dengan Gejog Lesung.

Baca Juga :  TMMD Hemat Biaya Rp 47 Juta
Seni Tari Keprajuritan diikuti berbagai lapisan masyarakat Kampung Nyutran. (Surya Mega/koranbernas.id)

“Kami sudah berlatih sejak 2014. Tidak pernah menyangka kalau kemudian upaya kami memetri budaya Jawa ini diakui oleh pemerintah daerah. Awalnya kami hanya semata ingin menghidupkan kegiatan positif di masyarakat. Ya daripada warga beraktivitas yang tidak ada perlunya,” kata Wahono.

Meski baru 2014, sejumlah kesenian dari Kampung Nyutran ternyata sudah lebih dulu mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Mereka cukup sering tampil dalam kegiatan Dies Natalis UGM, kemudian pentas d Taman Budaya serta pernah meramaikan sebuah gelaran seni di Prambanan, atas undangan salah satu perusahaan nasional.

Grup Kethoprak dari Kampung Nyutran, 28 September 2018, juga akan tampil lagi d Taman Budaya dengan lakon Jagat Biru Rahayu.

Sesepuh Kampung Nyutran, Prof Dr Ir Cahyono Agus mengungkapkan, seluruh pertunjukkan seni dan budaya di Nyutra Budaya 2018 adalah potensi yang muncul dari masyarakat setempat. Masyarakat tergugah semangatnya untuk membangun aktivitas positif baik untuk kalangan orangtua, remaja maupun anak-anak.

Baca Juga :  Ibu-ibu, Gunakan Smartphone Sesuai Fungsinya

Agar seni tradisi tersebut diterima kalangan muda, dalam perkembangannya sengaja seni tersebut kemudian dipadukan dengan olah-olah seni kekinian.

“Pentas kali adalah bagian dari program pemerintah daerah terhadap 80 sanggar yang ada di Jogja,” kata Agus.

Dalang remaja dari Kampung Nyutran ikut unjuk kebolehan memainkan wayang tanpa kelir. (istimewa)

Ketua Umum PKBTS dan juga Anggota Dewan Pendidikan DIY ini mengatakan, semua yang dilakukan warga Kampung Nyutran ini sejatinya juga merupakan perwujudan dari konsep pendidikan khas Jogja yaitu Sistem Among dan Tri Pusat Pendidikan, yaitu Masyarakat, Sekolah dan Keluarga.

Sedangkan wujud pendidikannya, tidak hanya menyentuh aspek kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan hati dan gerak.

“Nah Nyutran ini menjadi demplotnya dari konsep pendidikan khas Jogja tersebut. Bagaimana mendidik masyarakat berbasis pada kebudayaan,” terangnya.(SM)