Status Merapi Meningkat Waspada, Warga Tidak Perlu Panik

197
Bupati Sleman, memimpin Rapat Koordinasi di Posko Pakem, Selasa (22/05/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status aktifitas Gunung Merapi dari tingkat Normal menjadi Waspada, Senin (21/5/2018) pukul 23.00 WIB. Sepanjang Senin hingga Selasa terjadi berulangkali letusan freatik disertai gempa vulkanik tektonik dan gempa tremor.

Letusan freatik ini menyebabkan dampak sebaran abu yang sempat mencapai hingga radius 10 km.

Pada Senin (21/05/2018) malam, jumlah pengungsi sempat mencapai 1.522 jiwa yang tersebar di 9 titik kumpul aman. Para pengungsi kemudian berangsur-angsur pulang hingga Selasa (22/05/2018) petang tersisa 66 jiwa. Meski begitu, dengan status Gunung Merapi yang Waspada, dimungkinkan akan kembali terjadi evakuasi mandiri oleh warga ke titik kumpul aman.

Pihak BPPTKG Yogyakarta merekomendasikan agar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi dikosongkan dari aktivitas penduduk. Selain itu kawasan Gunung Merapi juga dinyatakan ditutup sementara untuk kegiatan pendakian.

Subandrio dari BPPTKG Yogyakarta mengatakan bahwa peningkatan status Merapi ini dimaksudkan agar semua pihak dapat bersiap lebih awal.

“Peningkatan status ini harus disikapi secara proporsional. Dalam artian tidak perlu berlebihan, tapi juga jangan sampai lengah. Warga belum perlu mengungsi, tapi harus meningkatkan kewaspadaan,” terang Subandrio dalam rapat tersebut.

Lebih lanjut Subandrio menaruh perhatian lebih kepada informasi yang berseliweran di media sosial.

“Mohon agar arus informasi bisa dikendalikan dengan baik. Harus mengantisipasi hoaks yang bisa menimbulkan kepanikan,” jelasnya seraya mencontohkan ada beberapa kabar bohong berupa gambar erupsi gunung Sinabung beberapa waktu lalu yang dikabarkan sebagai erupsi Gunung Merapi saat ini.

Dalam kesempatan ini, Sri Purnomo memerintahkan jajaran terkait untuk siaga 24 jam.

“Setelah pulang kantor, ponsel jangan dimatikan. Sudah cukup pengalaman erupsi 2010 menjadi pengalaman menyedihkan kita. Kita hidup bersahabat dan berdampingan dengan Merapi, tapi jangan lengah,” ungkapnya.

Dalam rapat koordinasi ini Pemerintah Kabupaten Sleman mempersiapkan beberapa hal. Di antaranya antisipasi terhadap akses transportasi, kegiatan wisata, kebutuhan pengungsi, dan kegiatan belajar mengajar.

Sejauh ini tidak ada perintah mengungsi dan kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan seperti biasa. Untuk murid sekolah yang sedang menjalani ujian, petugas gabungan BPBD Sleman, BPBD DIY, Satpol PP, dan Basarnas menyiagakan mobil di beberapa sekolah dasar. (SM)