Suara Nyaring Cegah Merebaknya Politik Kebencian

158
Pangarsa Abdi Dalem Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta Drs Oka Kusumayudha didampingi Sutirman Eka Ardhana menyerahkan secara simbolis buku-buku kepada ketua Taman Bacaan Masyarakat Kota Yogyakarta, Senin (23/07/2018) di Joglo Cangkir Jalan Bintaran Tengah Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Di tengah kegalauan banyak warga masyarakat tentang sikap sebagian generasi muda Indonesia yang acuh bahkan terus terang menolak terhadap Pancasila sebagai dasar negara akhir-akhir ini. Muncul suara nyaring dari seorang anak muda yang mempertanyakan bagaimana cara melekatkan Pancasila di hati generasi muda. Hal itu muncul pada Diskusi Kebangsaan ke-17 yang digelar oleh Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta, Senin (23/07/2018) di Joglo Cangkir Jalan Bintaran Tengah Yogyakarta dengan tema “Pancasila Sebagai Etika Berpolitik”.

Namanya Darto, mahasiswa S2 di UGM itu mengawali tanggapannya dengan mengetengahkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia tahun 2015 dan 2018 yang menunjukkan adanya kenaikan angka ketidakpercayaan terhadap Pancasila. Beberapa faktor yang terkait masalah ekonomi, sosial dan kurangnya alternatif.

Menurut Darto, sampai kapan pun tetap Pancasila asalkan kesenjangan yang terjadi di masyarakat bisa diatasi. Masalahnya bagaimana melekatkan nilai-nilai Pancasila itu kepada generasi muda zaman milenia yang sudah terpapar pada berbagai faham. Termasuk faham radikalisme yang banyak muncul di kalangan kampus-kampus sehingga mengubah cara pandang mereka.

Diskusi menampilkan tiga pembicara, yakni Dr Kuskrida Ambardi MA atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Dody dari Departemen Komunikasi Fisipol UGM. Dr St Sunardi dari Universitas Sanata Dharma. Serta Drs H Idham Samawi, anggota DPR / MPR RI.

Dalam diskusi tersebut muncul banyak pemikiran. Termasuk bahwa Pancasila pernah menjadi wacana kekuasaan seperti terjadi zaman Orde Baru. Kelompok yang beda pendapat tidak pernah mendapat ruang untuk berkomunikasi. Dalam perjalanan lanjutannya muncul politik kebencian dan orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan.

Bahkan pada era digital ini, orang dengan bebasnya menuliskan di media sosial tentang ketidaksependapatannya pada kelompok lain. Dari saling menanggapi itu tumbuh subur kebencian yang ditebar antara kelompok menghadapi kelompok lain. Kalau politik kebencian ini dibiarkan akan sangat berbahaya karena munculnya multi penafsiran sesuai mindset masing-masing. Dan dampak medsos sangat luar biasa mengingat hampir setiap orang memegang perangkatnya dengan tingkat intelektual yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Ini merupakan tantangan besar dan harus segera diatasi untuk mencegah munculnya kelompok-kelompok fundamentalis.

Menurut Suprihandono, salah seorang penanggap, para tokoh berbagai elemen pendiri bangsa ini sudah berjuang melahirkan Pancasila dan disepakati sebagai dasar negara. Kewajiban kita sekarang adalah menjaganya agar jika ada pihak yang ingin mengubah atau “menyempurnakan” tidak boleh melenceng dari nilai aslinya.

Sementara itu Dts H Idham Samawi merasa prihatin terhadap banyaknya anak muda yang aktif ikut demo tanpa tahu arti dan tujuan sebenarnya.

“Hanya Pancasila lah yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tersebar dari puluhan ribu pulau seperti zamrud katulisiwa. Termasuk sebagian besar pulau-pulau kecil yang tidak mudah untuk bisa mempersatukannya,” katanya.

Hal yang juga membuat keprihatinannya adalah pasal 4 Pancasila. Dimana para pendahulu kita telah merumuskan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Aplikasinya di lapangan adalah:

Siapa yang memperoleh suara terbanyak itu yang menang. Pembicara maupun penanggap sependapat, itulah yang merusak sistem demokrasi negara kita. Yang kuat secara ekonomi lah yang akan berkuasa dengan mengabaikan kompetensinya. Pancasila memang menjadi dasar negara kita. Tetapi aplikasi di lapangan masih mengalami banyak kendala.

Idham mengajak masyarakat mengaplikasikan Pancasila mulai dengan hal-hal kecil. Di antaranya peduli terhadap masyarakat lingkungannya. Anak-anak usia sekolah jangan sampai putus sekolah karena kemiskinan orangtuanya. Menciptakan lapangan kerja bagi lingkungannya. Jangan biarkan orang miskin kelaparan dan lain-lainnya. Selain melaksanakan sila pertama, ketiga dan keempat.

Karena tindakan seperti disebut di atas merupakan aplikasi sederhana dari sila Perikemanusiaan yang adil dan beradab. Serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Pada akhir acara yang dipandu Drs Purwadmadi, diserahkan bantuan buku untuk Taman Bacaan Masyarakat Kota Yogyakarta. Menurut Pangarsa Abdi Dalem PWS Drs Oka Kusumayudha sesaat sebelum menyerahkan buku, ini merupakan salah satu bentuk kepedulian PWS di bidang pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa. (yve)