Sudah Cacat Tak Dibantu Pula

483
Kapolsek Sedayu, Kompol Sugiyarta Amd (kanan) didampingi Iptu Agus Supraja SH dan Bripka Murijan menyerahkan bantuan kepada pasangan difabel Suseno-Sukiyah. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Suseno (72) dan Magdalena Sukiyah (63) warga Dusun Ngengas  Gubug RT 51 Desa Argosari Kecamatan Sedayu  Bantul, merupakan pasangan difabel yang hidup hanya berdua hingga masa senjanya.

Menikah di tahun 1994, pasangan tersebut hingga saat ini belum dikaruniai keturunan. Praktis hari-harinya hanya dihabiskan berdua di  rumah mereka yang  sederhana bahkan nyaris roboh pada  bagian dapurnya.

Sang suami menderita kebutaan sejak lima tahun silam, sedangkan
istrinya cacat kaki  akibat serangan polio dari lahir. Kendati demikian, Sukiyah tetap berusaha menjadi istri terbaik bagi suaminya. Setiap hari dia memasak di dapur, walau harus susah payah duduk di kursi yang tinggi agar bisa memasak dengan nyaman. Begitu pula, untuk mencuci baju Sukiyah harus menggunakan kursi agar bisa mengucek baju suaminya tercinta.

“Sehari-hari saya tetap mengurus suami. Apalagi sejak dia tidak
bisa melihat, maka sayalah yang harus banyak membantu,” kata Sukiyah saat menerima bantuan dari Kapolsek Sedayu Kompol Sugiyarta Amd di rumahnya, Senin (28/08/2017) sore. Turut mendampingi, Panit I Bhinmas Iptu Agus Supraja SH, Panit II Bhinmas Aiptu Alip Subana dan Bhabinkamtibmas Desa Argosari Bripka Murijan.

Menurut Sukiyah, apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka tidaklah mengendorkan rasa kasih dan cinta kepada suaminya tersebut. Dengan telaten, Sukiyah mengurus semuanya dari pagi hingga malam menjelang.

Karena keduanya menderita cacat atau difabel, maka sehari-hari mereka hanya  mengandalkan bantuan bagi keperluan hidupnya. Seperti bantuan beras dari pihak gereja setiap bulan 10 kilogram dan keperluan lain dari tetangga kanan dan kiri.

Baca Juga :  Terima Sertifikat ISO, Disdukcapil Bantul Dorong Layanan Prima

“Dulu saya dapat bantuan uang setiap bulan Rp 300.000. Tetapi
sudah lama tidak ada bantuan lagi, jadi saya mau bagaimana lagi? Untuk bekerja tidak bisa. Matur nuwun dhumateng tanggi kiwa tengen ingkang sampun mbiyantu saben dinten, wonten kemawon (terima kasih kepada tetangga kiri kanan yang sudah membantu setiap hari. Ada saja),” katanya dengan berkaca-kaca.

Dulu suaminya bekerja sebagai buruh tani, namun sejak kebutaan
mendera, Suseno sudah  tidak mampu mencari nafkah buat dirinya dan sang istri.

“Saya itu dulu bisa melihat, hanya saja lima tahun lalu tiba-tiba mata saya sakit,” tambah Suseno. Bahkan sakit itu bertambah parah saat hidung hingga janggutnya berubah kemerahan dan mengeluarkan nanah.

Kemudian kebutaan total melanda dirinya sehingga menghentikan segala aktivitas yang selama ini bisa dilakoninya. Berobat, paling banter mereka hanya ke Puskesmas Sedayu I.

Kendati memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) namun menurut Sukiyah untuk berobat mereka terkendala  biaya. Utamanya untuk keperluan transportasi dan keperluan saat berobat. “Ya kalau pusing cukup minum Bodrek saja. Berobat ke RS belum pernah,” timpal Sukiyah.

Butuh bantuan

Kapolsek Sedayu mengatakan sebagai Kapolsek yang baru dirinya perlu mengenal wilayah termasuk juga bersilaturahmi ke seluruh lapisan masyarakat di wilayah tersebut.
“Hari ini saya bersama jajaran menyerahkan bingkisan sebagai bentuk silaturahmi dan kasih sayang kami kepada sesama,” kata Kapolsek yang baru menjabat belum genap seminggu ini.

Baca Juga :  Perpustakaan Sekolah Ini Bikin Betah Serasa di Kafe

Dia berharap nantinya ada bantuan yang lebih besar yang diberikan pihak terkait bagi keluarga Suseno. Termasuk rehab rumah bagian dapur yang nyaris ambruk karena dinilai membahayakan penghuni.

“Saya apresiasi kepada Bhabinkamtibmas yang mendata warga di
wilayahnya yang sekiranya membutuhkan. Kita akan berusaha semaksimal mungkin memfasilitasi bantuan agar segala persoalan yang ada bisa diatasi secara bersama-sama,” katanya.

Sedangkan Bripka Murijan mengatakan sebagai Bhabinkamtibmas dirinya selalu melekat, memonitor dan berbaur dengan wilayah tempatnya berdinas.

“Saya data warga yang kondisinya memprihatinkan untuk kemudian bisa mengupayakan bantuan. Tentu saya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” tandas polisi yang sudah menjadi Bhabin sejak 15 tahun silam itu.

Ketua RT 51, Atti, juga berharap ada bantuan bagi keluarga ini. “Sebelumnya mereka mendapat program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun setelah berganti menjadi Program Keluarga Harapan (PKH) mereka tidak mendapatkanya,” katanya.

Ini karena kriteria PKH diutamakan bagi keluarga yang memiliki anak sekolah ataupun Balita atau anak kecil, sementara pasangan ini tidak memiliki anak. PKH bertujuan untuk usaha produktif, sementara  pasangan Suseno-Sukiyah sudah tidak mampu bekerja alias tidak produktif lagi.

“Untuk itulah, besar harapan saya mereka nanti bisa mendapatkan bantuan dari pihak yang berkompeten. Saya sangat berharap sekali,” katanya. (sari wijaya)