Sukiran, Kerap Mendapat Cacian Penolak Bandara

141
Sukiran bersama kawan-kawannya sedang mengerjakan pemasangan pagar NYIA. (Sri Widodo/koranbernas.id)

KERINGAT meleleh di kening dan pipi Sukiran. Kaos oblong lengan panjang yang dipakainya juga basah dengan keringat. Ia berdiri termangu di bawah rindangnya sebuah pohon. Istirahat sejenak, dari kerjanya memasang pagar besi pembatas lahan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Wajahnya yang keras nampak muram. Matanya menatap sayu hiruk pikuk warga penolak bandara yang setengah putus asa berusaha mengusir petugas keamanan dan petugas pemasang pagar bandara.

Sukiran merupakan salah satu warga terdampat NYIA yang kini bekerja dalam proses pembangunan bandara.

“Kami merelakan lahan sawah dan pekarangan serta rumah kami digusur untuk bandara. Namun kami juga minta agar dapat bekerja saat proses pembangunan hingga saat beroperasi kelak,”katanya.

Sukiran berpendidikan STM atau SMK. Saat ini baru bisa kerja ikut memasang pagar. Karena untuk saat ini, yang ada memang baru pekerjaan itu. Pemadatan landasan pacu dikerjakan menggunakan alat mekanik sehingga tidak banyak tenaga kerja manusia.

Bersama sekitar 40-an warga terdampak, Sukiran ikut memasang pagar. “Kelompok saya ada 14 orang. Ini bersama kelompok lain bersama memasang di daerah warga yang menolak,” tuturnya pelan.

Dia mengaku benar-benar tidak nyaman bekerja saat ada keributan penolakan pemasangan pagar ini.

“Tidak nyaman sama sekali. Dengan yang menolak kami saling kenal. Mereka tengah marah,  tak jarang kami juga dimaki-maki,”tuturnya.

Warga penolak bandara saat terjadi keributan pekan kemarin memang melampiaskan amarah kepada siapa saja. Memaki dan menuding- nuding. Ada juga wartawan yang kena makian dan bentakan.

Bagi Sukiran makian dan bentakan rekannya yang menolak bandara terasa begitu menyakitkan. Namun dia tak tega menanggapinya. “Kasihan mereka sebenarnya,” desisnya.

Sukiran warga Kepek Glagah ini sendiri kini tinggal di Desa Demen Temon.

“Nilai ganti rugi yang saya terima 800 ribu rupiahper meter. Tapi saya membeli tanah pengganti di Demen satu juta permeter. Belum biaya untuk membangun rumahnya. Jadi ya hanya impas bahkan sedikit nombok,” katanya.

Dia bertutur, ada yang dapat ganti rugi tinggi dan beli tanah lebih murah, sehingga ada sisa dana untuk hidup lebih mapan.

Oleh karena itu Sukiran harus tetap bekerja agar dapat hidup wajar. “Saya memang suka bekerja. Dulu selain menggarap tanah sendiri juga nyambi kulakan semangka atau melon. Saya beli dari petani lalu saya jual  eceran ke warung-warung se Kulonprogo,”katanya.

Bekerja  memasang pagar bandara ini, Sukiran dan kawan-kawannya  mendapat upah Rp 70.000 sehari. Mulai bekerja jam 08.00 Wib dan baru berhenti pukul 16.00 Wib. Siang hari, mereka mendapat kesempatan beristirahat satu jam pada pukul 12.00-13.00 Wib.

“Pekerjaan yang ada ini, ya sudah saya kerjakan yang ada dulu. Mudah- mudahan besok ada pekerjaan lebih bagus dan upah lebih baik,” imbuhnya. (SM)