Sulitnya Cokro Bertahan Ditengah Gempuran Pasar Modern

212
Pasar Cokro Kembang yang terletak di Desa Daleman Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten.(masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Pasar Cokro Kembang yang terletak di Desa Daleman Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten merupakan pasar desa yang dikelola Pemkab Klaten. Meski dibangun menggunakan dana APBN 2011 namun pendapatan sektor pasar dari tahun ke tahun tetap dibagi dua antara Pemkab Klaten dengan Pemdes Daleman.

Sistem bagi hasil yang diperoleh selama ini ternyata belum adil karena pemkab masih harus menanggung biaya tenaga kebersihan dan keamanan yang merupakan peninggalan Pemprov Jawa Tengah

Kepala Unit Pasar Cokro Kembang, Gino mengatakan tenaga kebersihan dan keamanan yang berjumlah 3 orang sedianya diharapkan bisa diangkat menjadi THL (Tenaga Harian Lepas) namun dalam pengangkatan sebulanblalu ternyata tidak

“Saya berharap mereka bisa diangkat jadi THL tetapi tidak. Waktu itu alasannya pasar Cokro Kembang pasar desa,” katanya, Minggu (12/11/2017).

Baca Juga :  Informasi Geologi Sleman Menarik Perhatian Tim Juri Penghargaan Bhumandala

Karena tidak diangkat menjadi THL itulah, Gino mengaku kecewa. Namun karena dirinya hanya seorang staf maka sebagai seorang PNS tetap menjalankan tugas sebaiknya.

Pasar Cokro Kembang dibangun pada saat Bibit Waluyo menjabat Gubernur Jawa Tengah. Menteri Perdagangan kala itu Mari Elka Pangestu. Pasar Cokro Kembang dibangun diatas lahan kas Desa Daleman dengan tujuan menjadikan Pasar Cokro sebagai pasar tradisional percontohan.

Tujuannya kala itu untuk mengangkat potensi unggulan disekitar pasar seperti komoditas pertanian, perikanan, UMKM, ternak dan perajin.

Sayangnya sejak diresmikan penggunaannya setahun kemudian, kondisi pasar masih tetap sepi. Pasar hanya ramai pada saat pasaran Pon dan Legi. Meski sepi namun perolehan retribusi sektor pasar dari tahun ke tahun selalu tercapai

Baca Juga :  Pedagang Memilih Bertahan Sampai 2023

Berbagai upaya telah dilakukan untuk bisa menjadikan Pasar Cokro Kembang menjadi pasar harian seperti mengadakan even-even dan hiburan namun warga dan pedagang tetap saja berjualan pada saat pasaran.

Bahkan saat ini keramaian Pasar Cokro Kembang justru bersaing dengan kehadiran toko-toko dan minimarket yang bermunculan tidak jauh.

Sugeng, pedagang Klitikan di Pasar Cokro Kembang mengaku jika pasaran cukup banyak barang dagangannya yang laku terjual. Namun sebaliknya jika bukan pasaran paling tidak hanya satu atau dua saja barang laku terjual.

“Soalnya kalau tidak pasaran nyaris tidak ada yang berjualan. Orang-orang pilih belanja di pasar yang ramai. Apakah ke Boyolali, Delanggu atau ke Solo sekalian,” tutur warga Daleman Tulung itu. (yve)