Sultan: “Jangan Takut Beribadah Sesuai Keyakinan”

218

KORANBERNAS.ID — Gubernur DIY, Sri Sultan HB X merasa prihatin akan kejadian kekerasan terhadap jemaat dan imam di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Minggu (11/02/2018). Sultan tidak memahami kenapa di Yogyakarta terjadi perbuatan keji yang mengatasnamakan agama.

Namun Sultan menghimbau masyarakat tidak perlu takut meski terjadi aksi brutal dari Suliyono yang mengakibatkan empat korban yang harus dirawat di Rumah Sakit (RS). Pemerintah DIY menjamin kebebasan beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Ini semua komitmen yang harus dibangun,” ujar Sultan usai menjenguk korban di RS Panti Rapih, Minggu (11/02/2018) malam.

Sultan tidak mengerti intoleransi bisa terjadi. Semua pihak mestinya bisa saling menjaga perbedaan dan memiliki kesadaran rasa.

Baca Juga :  Pilpres 2019 Tempatkan PKS Parpol Papan Atas

“Kenapa begini sedangkan di masyarakat kita, kebersamaan sebagai budaya. Saya tidak memahami ada perbuatan keji dan tidak ada rasa kemanusiaan. Ada umat yang sedang melaksanakan ibadah kenapa ada kekerasan. Ini jelas bukan karakter warga Yogyakarta,” ungkapnya.

Sultan yang baru saja dari Jakarta dan langsung menuju ke RS tersebut menegaskan, kekerasan atas nama SARA tersebut tidak boleh lagi terjadi. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (forkopimda) seperti Bupati Sleman, Kapolda, Danrem dan lainnya untuk menindaklanjuti masalah tersebut. Melalui kerjasama dengan organisasi masyarakat (ormas), Sultan menggalang kesepakatan agar tidak boleh lagi ada kekerasan, termasuk intoleransi di Yogyakarta.

Masyarakat juga diminta untuk menghargai perbedaan agama yang diyakini masing-masing. Aparat pun harus bisa menjamin kebebasan masyarakat dalam melaksanakan ibadah dan menghargai perbedaan tanpa adanya kekerasan.

Baca Juga :  Sopir Mobil Tangki BBM Harus Taati Aturan

“Harapan saya, Jogja tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Perangkat desa dan juga jaga warga pun perlu mewaspadai dan tidak terprovokasi terhadap kemungkinan yang terjadi baik kekerasan maupun intoleransi. Semua harus dicegah dari awal, jangan sampai terlambat,” ungkapnya.

Sultan menambahkah, pihaknya meminta maaf terhadap umat Kristen dan Katolik atas kejadian kekerasan yang menimpa jemaat. Pihaknya meminta aparat keamanan terus menjaga rumah ibadah saat hari raya namun juga tiap misa atau kebaktian.

“Jogja diharapkan tetap harmonis. Ini yang terus kita jaga dan toleransi agar tetap bisa terjaga,” imbuhnya. (yve)