Tahun Anjing, Dikhawatirkan Timbul Konflik, Mengapa?

189
Warga etnis Tionghoa melakukan peribadatan di Kelenteng Zhen Lin Gong di Kelurahan Poncowinatan. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID  — Ribuan masyarakat etnis Tionghoa melakukan peribadatan atau sembahyang di sejumlah klenteng Konghucu di Kota Yogyakarta sejak Kamis (15/02/2018) malam, hingga Jumat (16/02/2018).

Mereka memanjatkan beragam doa pada hari yang bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2569 menurut penanggalan Tiongkok. Termasuk di salah satu kelenteng terbesar yaitu Kelenteng Zhen Lin Gong di Kelurahan Poncowinatan.

Eka Putra, pengurus klenteng yang juga salah seorang pengurus Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) DIY menuturkan, perayaan tahun ini yang merupakan tahun anjing tanah.

Masyarakat Tionghoa berharap akan kebahagiaan, kerukunan dan kedamaian tercipta tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di Indonesia secara keseluruhan.

Ya, anjing itu kan sukanya menggonggong atau menggigit. Bagi kami, ya semoga di tahun ini tidak ada masalah,” katanya saat ditemui koranbernas.

Terlebih lagi, tahun 2018 dan 2019 yang kerap disebut tahun politik yang diperkirakan akan meningkatkan eskalasi suhu politik di tanah air. Menurut Eka, hal itu pun berkaitan dengan shio anjing tanah pada tahun ini.

Baca Juga :  GKR Hemas Memanen Sayur dan Buah

“Seperti yang saya bilang, anjing itu salah satu sifatnya, menggigit. Ada ramalan tentang perebutan kekuasaan lah. Karena itu, kami berharap tidak terjadi. Simbol itu kan artinya masing-masing ya. Tikus artinya ada, naga juga artinya ada sendiri. Nah, kalau anjing, mungkin ada seperti itu perebutan kekuasaan,” kata dia.

Menurut Eka Putra, masyarakat Tionghoa berharap tidak terjadi konflik yang berujung perpecahan di negeri ini. “Semoga di tahun ini, kita warga negara Indonesia berharap tidak ada kekerasan. Semuanya damai, dan Jogja juga damai,” ujar pria yang juga pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa atau Perhimpunan PITI DIY.

Hal yang kurang lebih sama diutarakan oleh Cindy Ghazali, mahasiswi Atma Jaya yang berdoa di Klenteng Poncowinatan. Cindy berharap di tahun baru Imlek kali ini, kedamaian akan terus tumbuh di Indonesia, selain mendoakan masa depan Indonesia yang semakin baik. “Kami berdoa supaya selalu aman dan rukun,” katanya singkat.

Baca Juga :  PWS Kembali Gelar Diskusi Kebangsaan

Beberapa tempat peribadatan umat Konghucu, baik di Kota Yogyakarta maupun kabupaten lainnya di DIY terus dipadati umat yang datang untuk beribadat. Selain memanjatkan doa, mereka juga memberikan sumbangan kepada kaum duafa. (sol)