Taiwan Ingin Muhammadiyah Ambil Peran Dakwah

564
Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSi menyerahkan beasiswa pendidikan dokter Muhammadiyah, Kamis (24/05/2018) di Kampus Terpadu UMY. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir MSi, menyatakan masyarakat muslim di negara Taiwan menginginkan agar Muhammadiyah mengambil peran dakwah di negara tersebut.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah diminta untuk bekerja sama dengan komunitas Muslim Taiwan,” ungkapnya pada acara Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1439 Hijriyah, Kamis (24/05/2018), di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pengajian  yang diikuti oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari berbagai daerah di Indonesia maupun Pimpinan Pusat Aiysiyah ini berlangsung tiga hari hingga Sabtu (26/05/2018).

Dalam kesempatan itu digelar teleconference dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan, yang menginformasikan sudah ada sekolah Muhammadiyah berbentuk paket A, paket B dan Paket atau setara SD hingga SMA.

Sekolah Muhammadiyah itu melayani para pekerja asal Indonesia maupun  warga negara Taiwan. Selain pendidikan, bidang kesehatan juga menjadi fokus garapan PCIM Taiwan.

Peluncuran buku Biografi Ki Bagus Hadikusumo oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSi dan Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Haedar Nashir mengapresiasi langkah tersebut sekaligus berharap kehadiran PCIM Taiwan mampu memberikan siraman rohani yang dibutuhkan muslim Taiwan. “Kita sudah punya 22 PCIM di berbagai negara, lewat PCIM kita berikan ilmu dan kesempatan,” tuturnya.

Menurut Haedar Nashir, pendirian PCIM di berbagai negara tidak lepas dari kegiatan Pengajian Ramadan PP Muhammadiyah yang sudah berlangsung sejak 1986, dirintis oleh Busyro Muqoddas.

Tahun ini, pengajian tersebut bertema Keadaban Digital: Dakwah Pencerahan Zaman Milenial. Tema ini dipilih mengingat kondisi zaman sudah berubah. “Kita sekarang hidup di zaman Revolusi Industri Keempat,”  kata dia.

Menghadapi realitas dunia baru itu, ke depan PP Muhammadiyah akan mengembangkan dakwah digital mengingat sejumlah 5 miliar dari total 7,5 miliar penduduk dunia merupakan pengguna telepon seluler.

Penerima beasiswa program pendidikan dokter Muhammadiyah foto bersama Rektor UMY dan Ketua Umum PP Muhammadiyah. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Sependapat, Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP menyampaikan, peradaban digital atau zaman digital (digital age) merupakan era yang mengacak-acak kemapanan. Inilah  pentingnya Muhammadiyah meredefinisi kembali tantangan dakwahnya.

“Sekolah Muhammadiyah sudah didirikan PCIM Taiwan. InsyaAllah Agustus nanti kita akan merintis sekolah Muhammadiyah di Korea Selatan,” ujarnya.

Bagi UMY, pengajian Ramadan kali ini merupakan pijakan untuk menggali berbagai gagasan, menyusun dan mengembangkan strategi dakwah zaman milenial sehingga tumbuh kesadaran individual dan kolektif di lingkungan warga dan pimpinan Persyarikatan untuk membangkitkan dakwah pencerahan Muhammadiyah melalui teknologi digital.

“Muhammadiyah perlu lebih mengembangkan dakwah partisipasif sebagaimana keputusah Muktamar 47 Makassar 2015. Diperlukan integrasi dan sinergi dakwah off line berbasis massa melalui ceramah verbal dan kegiatan bil-hal dengan dakwah bil qalam melalui media online,” paparnya.

Di sela-sela acara pengajian, diserahkan beasiswa program pendidikan dokter Muhammadiyah untuk tiga orang calon dokter serta Launching Buku Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIX Fikih Kebencanaan dan Tuntunan Shalat, dan buku Biografi Ki Bagus Hadikusumo. (sol)