Tak Ada Agama yang Benarkan Kesewenang-wenangan

188
Prof Syafii Maarif menerima audiensi Gemayomi, Sabtu (17/02/2018), di Gedung Suara Muhammadiyah Jalan KHA Dahlan Yogyakarta.

KORANBERNAS.ID – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif dengan tegas menyatakan tidak ada agama apa pun yang membenarkan kekerasan atau kesewenang-wenangan terhadap pemeluk agama lain.

Syafi’i Ma’arif menyebutkan, kekerasan dan sikap intoleran yang terjadi akhir-akhir ini merupakan hasil penafsiran ajaran agama yang keliru oleh pemeluknya.

“Khususnya dari sisi agama, agama yang otentik. Semua agama, tidak ada yang mengajarkan permusuhan. Tidak ada yang mengajarkan kekerasan atau intoleransi,” kata Prof Dr H Syafi’i Ma’arif MA saat menerima audiensi dari Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi (Gemayomi), Sabtu (17/02/2018) di Gedung Suara Muhammadiyah Jalan KHA Dahlan Yogyakarta.

Pria yang sering dianggap Bapak dan Guru Bangsa itu menyatakan, banyak kasus kekerasan terhadap pemeluk agama lebih disebabkan karena ketidaktahuan atau kebodohan pelaku kekerasan. Termasuk terorisme yang mengatasnamakan atau membawa dalil-dalil agama.

“Ada seorang pakar sosial (sosiolog) Perancis, Olivier Roy, yang menulis buku Holy Ignorance. Jadi, perilaku kekerasan itu adalah kebodohan atau ignorance yang dianggap suci atau holy. Saya sendiri sebenarnya merasa kasihan karena kebodohan mereka, tapi mereka pun tak henti-hentinya melakukan kekerasan,” papar Buya Syafi’i.

Baca Juga :  Di tangan Anak-anak, Barang Bekas Jadi Karya

Sebagai tokoh Islam terkemuka di Tanah Air, Buya Syafi’i pun menyatakan, Islam adalah agama yang selalu mengedepankan wajah kedamaian atau rahmatan lil alamin.

“Jadi Islam itu, rahmat untuk seluruh alam. Alamiin di sini konteksnya jamak, alam apa pun Islam harus selalu membawa kedamaian,” ujarnya.

Anggota DPR RI Maria Yohana Esti Wijayati yang juga menjadi Pembina Gemayomi menyatakan, Gemayomi mengapresiasi dedikasi sosok Syafi’i Ma’arif yang selalu menyebarkan virus pluralisme atau kebhinekaan dan menggandeng semua pihak.

“Kami mengenal Buya sebagai sosok yang selama ini menyebar virus-virus cinta bagi sesama, menjauhkan dari rasa kebencian, dendam. Kami bangga punya Buya, kami mencintai Buya dan kami berharap teladan dari Buya,” tutur Esti.

Syafii Maarif diwawancarai wartawan usai menerima audinesi Gemayomi.

Prof Mukhtasar Syamsuddin selaku Koordinator Gemayomi saat audiensi menuturkan, pihaknya meminta dukungan kepada sosok Buya Syafii untuk bersama-sama memerangi sikap intoleransi yang mulai banyak terjadi akhir-akhir ini, termasuk insiden penyerangan di Gereja Santo Lidwina Sleman Yogyakarta satu pekan lalu.

Baca Juga :  Komunitas Juang Bagikan Takjil

“Kehadiran di sini bertemu dengan Buya, dengan tulus menyatakan kami memerlukan kehadiran dan kebersamaan Buya untuk merawat kebhinekaan dan persatuan,” kata dia.

Menurut Mukhtasar, sosok pendiri Ma’arif Institute itu merupakan panutan seluruh bangsa Indonesia dalam hal menjaga kebhinekaan dan toleransi antar umat beragama di negeri ini.

“Kami sangat berharap Buya untuk selalu hadir mewakili rakyat dalam setiap waktu saat permasalahan (intoleransi) mengganggu kentetraman hidup bersama, khususnya di DIY,” katanya.

Saat audiensi yang dihadiri oleh perwakilan 36 ormas itu, Gemayomi menyampaikan lima poin penting saat bersilaturahmi dengan Pimpinan Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah Buya Syafii Maarif.

Di antaranya memberikan dukungan kepada Buya Syafii untuk terus mengembangkan sikap pluralism dan memerangi sikap intoleransi. Gemayomi juga mendorong pemerintah untuk melakukan pembinaan ideologi Pancasila secara komprehensif kepada masyarakat. (sol)