Tak Ada Akar Bakau, Rasamala pun Jadi

1024
Pak Tok keliling berbagai kota menunjukkan akar pohon rasamala yang mirip  akar bakau untuk penghias akuarium. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Anda punya akuarium? Pasti tak hanya ikan warna-warni berbentuk bermacam-macam yang Anda inginkan. Tetapi juga aksesoris yang membuat akuarium semakin menarik dan ikan pun semakin kerasan.

Ada pasir Bali, pasir silika, lavarok dan lain-lain. Apa sih sekarang yang tidak bisa dijual? Ketika akar bakau dilarang diambil, maka orang kreatif pun berpikir mencari penggantinya.

“Saya menggantinya dengan akar pohon rasamala yang mirip akar pohon bakau,” kata Prapto yang biasa dipanggil Pak Tok.

Pria  yang tinggal di Perumahan Guwosari Krebet Pajangan Bantul tersebut bertemu  koranbernas.id di kompleks Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY), Sabtu (24/02/2018). Bersama istrinya dia sedang memasok aneka produk untuk Aqua Scape.

Ketika pasir-pasir juga dilarang diambil, Pak Tok berusaha memproduksi sendiri. Ternyata, menurut dia, pasir buatan ini nyaris sama dengan pasir asli.

Pabriknya ada di Bedoyo Gunungkidul, kapasitas produksinya bisa ratusan ton per bulannya. Tinggal menyesuaikan kebutuhan.

Selain menggunakan berbagai jenis pasir dan akar rasamala. Belakangan ini ada juga batu tebing yang cantik oleh proses alam.

Apa sih yang tidak bisa dijual dalam perspektif inovatif? “Dulu tidak laku. Sekarang harganya sama dengan beras Rp 15.000 per kg,” katanya sambil menjinjing sepotong batu tebing yang ternyata cukup berat.

Meski Pak Tok penyuplai aneka bahan untuk Aqua Scape, tetapi dia tidak merangkainya sendiri. Ada banyak ahlinya di antaranya di Solo, Purwokerto dan Bandung.

Pak Tok tahu, dari beberapa ratus ribu bahan darinya untuk satu akuarium agak besar, untungnya bisa berlipat. Tetapi bukankah rezeki oleh Tuhan sudah dibagi sendiri-sendiri.

Meski sudah “bermain” di bisnis kelas menengah ke atas, namun Pak Tok masih keliling sendiri untuk pasar lokal. Menggunakan pikap penuh aneka pasir yang dikemas dalam zak-zak plastik, dia berkeliling mensuplai para pelanggan di berbagai pasar ikan hias maupun toko-toko yang banyak sekali di berbagai kota. Juga langsung ke rumah.

“Kalau pesanan aneka pasir partai besar dari Jakarta, bisa langsung transfer dari truk pabrik langsung ke truk pembeli. Transaksinya di rumah,”  kata Pak Tok.

Bisnis Aqua Scape ini berkembang sejalan dengan makin meningkatnya minat masyarakat memelihara ikan hias di akuarium.

Juga, perkembangan teknologi yang mampu memproduksi aneka pasir sintetis mirip aslinya. Termasuk pasir Bali yang harganya jutaan per kilogramnya, tenyata dengan rekayasa manusia didukung kemajuan teknologi  bisa dihadirkan dalam bentuk, tekstur dan warna sama. Tapi dengan harga lebih murah.

Pak Tok dengan pikap penuh aneka pasir untuk Aqua Scape. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sirip ikan hiu

Sebelum bergerak di bisnis Aqua Scape, Pak Tok memang sudah akrab dengan bisnis yang bersentuhan dengan produk laut.

Bisnis sirip ikan hiu pernah berkibar dan Pak Tok pernah ikut menikmatinya. Namun ketika muncul larangan, dia cepat berpikir untuk mencari “pelabuhan baru” guna mendukung ekonomi keluarganya.

Awalnya masuk di bisnis kerang-kerangan.  Dan akhirnya  dia menemukan Aqua Scape yang lebih mapan. Tentu ini dibangun bertahap dari bawah hingga dia mencapai hasil seperti sekarang ini. (sol)