Tak Cukup Tanam Pisang, Warga  juga Pasang Bendera Putih

127
Warga menanam pohon pisang di tengah jalan. Mereka protes karena jalan yang rusak itu tidak segera diperbaiki. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Jalan aspal yang setahun lalu dibangun menghubungkan flyover kondisinya rusak parah. Warga pun protes dengan caranya sendiri. Tak cukup hanya menanam pohon pisang di tengah jalan, mereka juga memasang bendera putih.

Semula, pengguna jalan dari arah Kokap Pengasih Kaliagung menuju jalan nasional Sentolo dapat melintasi rel selatan stasiun Sentolo.

Setelah dibangun flyover di Ngelo setahun lalu,  perlintasan rel kereta api ditutup permanen. Kendaraan harus lewat flyover. Pertimbangannya, antara perlintasan keteta api dengan jalan raya rawan kecelakaan.

Namun rusaknya jalan menuju flyover membuat warga kecewa, kemudian diluapkan dengan menanami pohon, Kamis (01/02/2018).

Jalan dari pasar desa menuju flyover sepanjang 700 meter ini hampir 30 persennya rusak parah. Permukaan jalan mlothot, bergelombang dan banyak lubang besar menganga tergenang air.

Baca Juga :  Inspirasi dan Perpustakaan Baru untuk SD Negeri Bunder III Patuk

Menurut warga, sering terjadi kecelakaan. Pengendara sepeda motor sering jatuh terperosok lubang maupun terpeleset karena permukaan jalan licin oleh lapisan tanah.

“Kami tanami pohon pisang, garut dan singkong di tiap lubangnya, lalu dipasangi bendera putih di sepanjang jalan. Ini bentuk keprihatinan warga karena tidak ada perbaikan. Sudah banyak yang jatuh di sini terutama saat hujan lebat,” ujar Hatyanta, warga Pedukuhan Kalibondol Sentolo.

Kerusakan parah sudah terjadi sejak sebulan terakhir, pasca ditutupnya perlintasan kereta api sebidang Ngeseng dan masuk musim penghujan.

Kerusakan hingga kini belum diperbaiki secara menyeluruh oleh dinas terkait. Baru sebatas tambal sulam yang tak lama kemudian rusak kembali.

Baca Juga :  Kenikmatan Dunia Itu Sangat Kecil

Riyana, warga lainnya, menyatakan setelah penutupan perlintasan kereta api, otomastis ruas berstatus jalan kabupaten itu menjadi jalur utama Wates-Sentolo via Kaliagung-Pasar Desa Sentolo.

Tonase jalan yang hanya mampu menampung beban maksimal 6 ton itu tidak kuat ketika dilewati kendaraan berat seperti truk muatan batu andesit dari Clereng Pengasih atau pengangkut pasir yang bobot muatannya hingga belasan ton.

“Sampai sekarang belum ada perbaikan menyeluruh. Mau ditambal kayak apa ya bakal tetap rusak lagi. Kecuali tonase jalan ditambah. Seharusnya kan ada perhitungan standar tonase jalan karena ini nanti jadi jalan provinsi,” sambung warga lainnya,  Riono. (sol)