Tak Hanya Sibuk Berjualan, Pedagang Beringharjo Rutin Pengajian

229
Jamaah Masjid Muttaqien Kidul Pasar Beringharjo Yogyakarta meninggalkan masjid usai mengikuti pengajian, Sabtu (24/03/2018) pagi. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS – Pasar Beringharjo, pasar terbesar di Yogyakarta ini tercatat jumlah pedagangnya paling banyak. Mereka tidak hanya sibuk berjualan saja tetapi juga rutin mengikuti pengajian setiap Sabtu pagi.

Tidak heran apabila potensi infak yang dihimpun dari kaum muslimin lewat pengajian itu jumlahnya luar biasa. Dari pengajian di Masjid Muttaqien Jalan Pabringan Kidul Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta Sabtu (24/03/2018) pagi, terkumpul infak Rp 3 juta.

Padahal pengajian hanya berlangsung satu jam mulai pukul 07:00 sampai 08:00. Pengelolaannya ditangani takmir masjid, digunakan untuk kepentingan syiar agama Islam dan kemaslahatan umat.

Menjawab pertanyaan koranbernas.id, Afton Rauf salah seorang pengurus masjid mengatakan hari itu pengajian diikuti oleh 705 orang jamaah.

Jumlahnya memang fluktuatif tetapi selalu dalam kisaran angka  seputar itu. Sifatnya umum, bukan hanya lingkungan pedagang Pasar Beringharjo saja tetapi juga diikuti banyak sekali jamaah dari luar.

Baca Juga :  Ada Pemeringkatan Bela Negara di Semua PT, Seperti Apa ?

Sedangkan dari kalangan pasar termasuk di dalamnya para buruh gendong yang dulu dikenal dengan jasa srumbungan. Sebagian besar memang kalangan pedagang pasar terbesar di Kota Yogyakarta itu.

Biasanya jamaah mulai berdatangan pukul 06:30 agar mendapat tempat sesuai diinginkan mengingat banyaknya jamaah pengajian rutin setiap Sabtu pagi.

Kali ini tampil sebagai pembicara Ustad Sigit Yulianto yang juga pengisi siraman rohani di Radio Retjobuntung Yogyakarta. “Ini tadi sebelum ke sini juga mengisi di RB,” kata Ustad Sigit.

Banyak jamaah memanfaatkan sesi tanya jawab. Di antara pertanyaan itu, ketika masa muda tidak salat apakah ada kewajiban qodho untuk nyaur di masa tuanya.

Sigit berpendapat, tidak ada diatur tentang masalah itu. Jadi yang bisa dilakukan adalah memperbanyak salat sunah saja.

Baca Juga :  Suka Duka Pengawas KB Jadi Cerpen Satu Buku

Tentang bacaan salat yang bisa dilakukan dengan syir yang seakan berkesan tidak dibaca, Sigit mengatakan sebenarnya syir itu tetap dibaca tetapi pelan-pelan.

Masjid Muttaqien yang sekarang berdiri di atas tanah keraton seluas lebih dari 2.000 m2, pemanfaatannya berada di bawah kewenangan Kodim 0734/Yogyakarta.

Masjid ini merupakan pengembangan dari mushala, karena tak lagi mampu menampung jamaah berkembang menjadi masjid.

Bersamaan dengan renovasi Pasar Beringharjo  dan kawasan sekitarnya era 1990-an, masjid diperluas lagi seperti yang ada sekarang.

Dulu sebelum ada Masjid Muttaqien banyak kalangan pedagang pasar  salat di Masjid Sulthony kompleks Kepatihan atau Masjid Gedhe Kauman.

Sejak Januari 2018 setiap Jumat Masjid Muttaqien membagikan ratusan nasi bungkus “Jumat Barokah” kepada siapa pun yang mau. Tidak terbatas untuk kaum duafa saja. (sol)