Tak Perlu Galau, Jamkesda Tetap Ada

439
Dokter Maya Sintowati Pandji Mkes bersama stafnya Saptono memberikan keterangan seputar Jamkesda di kantornya, Rabu (17/01/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bagi masyarakat Bantul yang selama ini memanfaatkan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) tidak perlu galau maupun risau.

Pada 2018, program tersebut tetap ada. Bahkan peserta Jamkesda sebanyak 23.500 orang sejak 2016 hingga 2018 secara bertahap akan masuk ke BPJS Kesehatan sehingga cakupannya lebih luas.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, dr Maya Sintowati Pandji Mkes kepada wartawan, di kantornya Rabu (17/01/2018).

Didampingi stafnya, Saptono, lebih lanjut dokter Maya menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir sebab program tersebut masih ada. Puskesmas dan BPJS Kesehatan sudah bekerja sama memperbarui program.

“Program tersebut tetap ada. Tidak perlu ada yang khawatir. Sebagian akan migrasi ke program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yakni BPJS Kesehatan agar cakupan lebih luas. Surat yang dikirim ke Puskesmas itu hanyalah surat pembaruan kerja sama saja,” kata dokter Maya.

Baca Juga :  Warga  Terdampak NYIA Demo Gugat PLN

Program Jamkesda di Bantul menyasar 83.000 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.100 orang beralih ke BPJS Kesehatan pada tahun 2016.

Kemudian pada 2017 dan 2018 imigrasi baru Jamkesda menjadi BPJS kesehatan total mencapai 23.500 orang penerima manfaat. “Secara  teknis data Dinsos yang memegang, siapa yang berhak menerima program tadi,” katanya.

Dari medis hanya meyodorkan nama-nama yang sering menggunakan fasilitas Jamkesda, termasuk yang terkena sakit katastropis yakni penyakit berbiaya tinggi dan secara komplikasi dapat membahayakan jiwa.

Misalnya jantung, stroke, ginjal, kanker, hemapholia dan Thalasemia. “Nanti yang menentukan prioritasnya mana yang akan dialihkan ke BPJS Kesehatan adalah Dinas Sosial bersama BPJS. Tentu diurutkan dari skala prioritas,” tambahnya.

Baca Juga :  Tidak Ada Hujan, Air dari Gorong-gorong Meluap

Kepesertaan BPJS Kesehatan sesuai aturan pusat akan otomatis tidak aktif ketika peserta mencapai  usia 80 tahun. Usia itu sudah di atas Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Indonesia.

Maka ketika seseorang usianya sudah di atas 80 tahun agar mendatangi kantor BPJS di Bantul guna mengaktifkan nomor kepesertaannya tersebut.

“Tidak perlu membawa syarat apapun, cukup datang dengan membawa bukti identitas diri dan kartu BPJS yang bersangkutan,” katanya. (sol)