Taksi Sedikit, Operator Tak Ideal

348

KORANBERNAS.ID – Keberadaan dua operator taksi lokal di Kabupaten Kebumen dianggap kurang ideal untuk menerapkan manajemen perusahaan taksi yang sebenarnya. Jumlah armada yang hanya enam buah atau masing masing tiga armada untuk tiap  satu operator. Hal itu dinilai kurang layak beroperasi layaknya perusahaan taksi yang telah mapan dengan belasan bahkan puluhan armada taksi.

Pendapat itu dilontarkan Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kebumen  Ir Ngadino kepada KoranBernas.id, Rabu (4/10/2017)) siang, menanggapi beroperasinya taksi lokal di Kebumen. Pada awalnya, Ngadino mengatakan taksi yang direkomendasikan  harus memiliki jumlah armada ideal 50–60 armada.

Namun, dua operator taksi lokal yang  mendapat izin operasi sekaligus  mendapat izin untuk mengoperasikan 15 armada taksi, ternyata ketika diselidiki, dua operator tersebut baru mengoperasikan masing-masing tiga armada saja.

Ngadino menyontohkan, Kabupaten  Purworejo yang lebih awal mengembangkan  taksi. Di sana bisnis taksi bisa berkembang dengan jumlah armada lebih banyak. Sedangkan di Kebumen, jumlah armada yang direkomendasukan sebenarnya cukup banyak yaitu 60 armada taksi. Namun realisasinya, sampai saat ini baru ada enam armada taksi.

Jumlah armada taksi yang belum maksimal itu, menurut Ngadino belum memungkinkan operator menerapkan manajemen, seperti perusahaan taksi yang sebenarnya. Dirinya menambahkan untuk mengelola perusahaan taksi, diperlukan biaya operasional  yang cukup tinggi.

Satu operator taksi setidaknya butuh lima tenaga administrasi, tenaga penerima  order dan mendistribusikan  order ke driver, serta mekanik. “Jika upah harian karyawan operator  Rp Rp 50.000 per orang per hari selama delapan jam kerja misalnya, dibutuhkan biaya operasional Rp 250.000 per hari, hanya untuk karyawan. Biaya ini tentu ditanggung armada yang ada,” paparnya.

Idealnya jumlah armada taksi paling sedikit 20 mobil tiap operator, sehingga operator bisa menjalankan  manajemen perusahaan taksi. “Jika kurang dari 20 armada, driver taksi harus pandai-pandai menyosialisasikan nomor kontak kepada masyarakat, sehingga tidak  bergantung pada operator telepon  di kantor operator taksi,” tandasnya. (ros)