Tambang Emas di Waduk Sermo Digali Lagi

678

KORANBERNAS.ID— Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo akan meminta BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) membimbing warga Kokap Kulonprogo mengeksplorasi potensi emas di kecamatan Kokap khususnya di Desa Kalirejo.

Langkah tersebut diambilnya karena izin WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat) sudah keluar. Bimbingan tersebut terutama pada sistem pengolahan biji emas yang aman tidak menggunakan merkuri sehingga mencemari lingkungan dan berbahaya bagi manusia.

“Izin WPR emas sudah turun saya akan menggandeng BPPT untuk menambang bersama rakyat setempat. Dengan menggunakan teknologi inovasi baru menambang emas tanpa memakai merkuri,” ujar Hasto kepada wartawan Minggu (25/02/2018).

Izin penambangan tersebut untuk empat titik, masing-masing 25 ha sehingga total 100 ha. Penambangan nantinya diarahkan dikerjakan oleh Bumdes Kalirejo.

Turunnya izin WPR tersebut disambut baik Kades Kalirejo, Lana. Karena pengajuan izin tersebut sudah lama ditunggu masyarakat.

Riwayat penambangan potensi emas ini di sebelah waduk Sermo itu memang sudah cukup lama. Penambangan emas rakyat ini sempat mengalami buka tutup karena kegiatan mereka tidak berizin alias ilegal.

Dari cerita warga Kokap keberadaan emas di sana sudah sangat lama. “Dulu beberapa orang kadang-kadang di sungai ngayaki  pasir nemu emas. Tetapi tidak tahu kapan itu mulainya,”  tutur FR Islan (72), warga Kokap.

Batu emas

Sekitar tahun 1985 an istri dari Bupati Kulonprogo Sinto Ariwibowo ketika belanja di pasar Wates memergoki ada perempuan menawarkan bongkah-bongkah batu berwarna serbuk keemasan.

Batu itu dibelinya lantas ditunjukkan ke suaminya. Kemudian ada penelitian serius dari PT Aneka Tambang. Dari penginderaan satelit positif di Kokap dan Girimulyo ada kandungan tambang emas.

“PT Aneka Tambang  mensurvei daerah tersebut dan mematok lokasi urat emas di perbukitan Kokap. Tapi setelah itu mereka pergi karena kandungan emasnya tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” ujar Noned, warga Hagorejo Kokap.

Kabar tersiar lewat koran waktu itu, kemudian muncul sebuah perusahaan penambangan kecil-kecilan, CV Lempar Bumi asal Tasikmalaya Jawa Barat yang melakukan penambangan di wilayah Sangon, sekitar awal 1990-an. Tapi penambangan itu juga tidak berlangsung lama karena tidak berizin.

Lemper Bumi akhirnya pergi namun masyarakat sekitar yang mengetahui ada emas terpendam di wilayahnya kemudian menambangnya meniru cara PT Lemper Bumi. Mulai dari Grindang Sangon hingga Plampang digali diambil tambangnya.

Urat emas

Menurut Noned, di wilayah Plampang II dan Dusun Sangon, warga setempat menemukan urat emas cukup tebal di daerah tersebut. Kemudian ditambang.

Pemda Kulonprogo waktu itu pura-pura tidak melihat adanya penambangan emas ilegal karena yang nambang rakyat kecil dan hasilnya juga tidak sangat besar.

Akan tetapi kemudian datang penambang yang lebih terampil dari Tasik Jabar sehingga suasana penambangan agak ingar bingar.

Noned yang juga ikut menambang menuturkan pada dekade 1999 hingga 2001, hampir setiap rumah tangga di desa tersebut memiliki lubang galian.

Akan tetapi, setelah terus-menerus dikuras, urat emas di permukaan perlahan mulai menipis sehingga untuk mendapatkan hasil lebih banyak harus menggali lebih dalam lagi.

Takala sedang jaya, Noned mengaku pernah mendapatkan 15 kilogram emas yang dirupiahkan setara dengan Rp 3 miliar. Uang itu digunakannya untuk membeli truk.

Keberadaan harta yang bertaburan membuat gesekan di masyarakat. Ada kolam ikan dekat sungai di pedukuhan yang ikannya mati,  karena tercemar merkuri. Air pasokan tercemar limbah tambang.

Kejadian ini kemudian menjadi memperoleh perhatian serius dari pemerintah. Karena ada yang melaporkan masalah pencemaran dan legalitas penambang.

Dalam suasana ini tercatat ada oknum politisi yang melakukan demo dagelan bersama teman-temannya mengatasnamakan rakyat.

Kelompok ini suatu ketika memprotes adanya penambangan ilegal. Namun begitu ganti bulan berikutnya mereka demo membela penambang. (sol)