Tanggapi Kasus Bedog, Uskup Agung Serukan Kerukunan

240

KORANBERNAS.ID — Keuskupan Agung Semarang menyerukan perdamaian dan kerukunan umat beragama menyusul kasus penyerangan terhadap perayaan Ekaristi atau Misa di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/02/2018) pagi pukul 07.45 WIB. Segenap umat Katolik di mana saja pun diharap bersikap tenang, menahan diri, dan bijaksana dalam situasi sulit ini.

“Kami mohon agar umat turut berkontribusi menjaga kondisi dengan tidak memperbesar isu yang justru akan kontraproduktif bagipenanganan kasus ini. Mari berdoa dan berjuang bersama-sama bagi perdamaian dan keadilan di NKRI,” ungkap Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang, Rm FX Endra Wijayanto Pr dalam siaran persnya.

Secara khusus, Keuskupan Agung Semarang juga memohon kebijaksanaan umat dan segenap masyarakat dalam bermedia sosial. Dengan demikian dapat memelihara situasi keamanan dan tidak memperkeruh situasi.

Kepada segenap masyarakat Yogyakarta dan masyarakat Indonesia pada umumnya, Uskup Agung berterimakasih atas segenap dukungan dan ungkapan simpati yang diberikan. Uskup berharap semua pihak bisa bersama-sama bergotong royong membela NKRI, nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Mari kita pastikan bahwa ibu pertiwi tetap damai, rukun, dan adil bagi semua anak bangsa,” ujarnya.

Meski demikian, Keuskupan Agung berharap segenap aparat sipil negara dan penyelenggara pelayanan publik di berbagai lini agar segera melakukan langkah cepat menciptakan sistem yang efektif agar kasus-kasus serupa tidak terjadi.

Selain itu, juga secara aktif turut berjuang menjaga ditegakkannya nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dan memberikan jaminan perlindungan yang sama dalam kebebasan beragama dan beribadah, perlindungan hak-hak asasi manusia, serta hak hak dasar sebagai warga negara Republik Indonesia tanpa kecuali.

Uskup juga mendesak kepada segenap aparat keamanan agar bisa mengusut kasus ini hingga tuntas dan menyelidiki sampai ke akar-akarnya, serta membawanya ke muka pengadilan agar mendapat hukuman yang setimpal. Aparat tidak mempetieskan dan mendiamkan kasus tersebut begitu saja sebagaimana telah terjadi di berbagai kasus kekerasan serupa yang lain.

Sikap proaktif dan bertindak tegas dari aparat juga sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi gangguan keamanan yang terjadi sehingga bisa mencegah terulangnya kasus serupa di tempat lain. Dengan demikian aparat keamanan tidak hanya mencegah gangguan keamanan tetapi turut berjuang menjaga hak hak dasar sebagai warga negara Republik Indonesia tanpa kecuali.

“Sehingga nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dan memberikan jaminan perlindungan yang sama dalam kebebasan beragama dan beribadah, perlindungan hak-hak asasi manusia dapat ditegakkan,” tandasnya.

Bagi jemaat di Stasi Bedog, Keuskupan Agung berharap aparat keamanan negara dan pelayan publik dapat memberi perlindungan. Sehingga mereka dapat kembali menjalankan ibadatnya tanpa gangguan sebagaimana rutin mereka selenggarakan, baik di bangunan gereja stasi maupun di tengah umat.

“Kami mengapresiasi kesiapsiagaan umat Katolik Stasi Lidwina Bedog dan warga masyarakat sekitar sehingga pelaku dapat dilokalisir di dalam Gereja sehingga tidak menimbulkan korban lebih jauh. Kami juga mengapresiasi kesiapsiagaan aparat setempat yang segera dapat melumpuhkan pelaku di lokasi sehingga situasi keamanan dapat kembali dipulihkan,” paparnya.(yve)