Tanpa Budaya Indonesia Terasa Hampa

Anggota DPD RI Drs H Abdul Hafidh Asrom MM Disambut Bregada

340
Anggota DPD RI Drs H Abdul Hafidh Asrom MM disambut Bregada Niti Manggolo saat menghadiri acara di Jogonalan Bantul, Minggu (24/06/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Drs H Abdul Hafidh Asrom MM menegaskan, Indonesia khususnya DIY merupakan pusat kebudayaan. Kekayaan budaya maupun seni tradisi di daerah ini harus dijaga kelestariannya.

“Budaya itu tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita semua khususnya Indonesia dan DIY yang sudah memiliki Undang-Undang Keistimewaan. Tanpa budaya Indonesia hampa. Pelestarian budaya itu penting,” ungkapnya pada acara Sosialisasi Lembaga DPD RI dan Penyerapan Aspirasi oleh Anggota DPD RI Drs H Abdul Hafidh Asrom MM Bersama Pelaku Seni Tradisi se-Kabupaten Bantul, Minggu (24/06/2018), di Jogonalan Lor Tirtonirmolo Kasihan Bantul.

Kehadiran Hafidh Asrom disambut Bregada Niti Manggala dari Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta, selanjutnya digelar pentas Kesenian Jathilan Kreasi Baru Turonggo Arum Kusumo dari Sutopadan Ngestiharjo Kasihan Bantul.

Tampak hadir Rois Syuriah PCNU Bantul Kh Abdul Khaliq Syifa, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul Sunarto SH MM. Kepala Desa (Kades) Tirtonirmolo HM Marwan MS SH serta Kades Ngestiharjo Oni Oktavani yang diwakili oleh Kusuma Barata.

Di hadapan warga serta para pelaku seni budaya tradisi, Hafidh Asrom lebih jauh menyatakan DIY memperoleh anggaran dari APBN berupa Dana Keistimewaan, tahun ini sebesar Rp 1 triliun.

Dari sejumlah itu Rp 450 juta dipergunakan untuk membeli tanah program Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). bersama Dinas Kebudayaan Bantul ke depan dia berharap para pelaku seni menyusun pengembangan kesenian.

“Selain UUK, ada juga yang kita perjuangkan bersama yaitu Undang-undang Desa di mana setiap desa memperoleh dana Rp 1 miliar. Tahun ini Rp 805 juta. UU Desa ini termasuk salah satu perjuangan DPD RI. Karena itu peran DPD RI penting untuk pembangunan DIY ke depan,” tutur Hafidh Asrom.

Tak lupa dia mengajak masyarakat DIY melestarikan budaya guna meraih kesuksesan. “Acara di Jogonalan ini bisa memberi kontribusi bagi kemajuan DIY dan Indonesia,” tambahnya.

Anggota DPD RI Drs H Abdul Hafidh Asrom MM foto bersama pelaku seni tradisi. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Mewakili masyarakat, Suparyadi menyatakan jika suatu kampung karawuhan nayaka yang luhur maka masyarakat merasakan adhem ayem.

“Kehadiran Bapak Hafidh Asrom semoga membuat Jogonalan makmur dan masyarakat hidup tenteram. Membuat suasana kampung regeng penuh kegembiraan,” kata dia.

Sependapat, Kades Tirtonirmolo HM Marwan MS SH menyatakan semoga acara ini bermanfaat bagi warganya.  Sedangkan Kusuma Barata mengatakan acara ini merupakan cara untuk melestarikan budaya adi luhung.

Drs H Abdul Hafidh Asrom MM berbincang dengan Rois Syuriah PCNU Bantul Kh Abdul Khaliq Syifa. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dalam kesempatan itu Kepala Disbud Bantul Sunarto juga mengajak masyarakat untuk melestarikan seni budaya adiluhung. Di kabupaten ini setidaknya terdapat lebih kurang 1.400 grup seni budaya, berasal dari 75 desa dan 933 dusun.

“Tiap dusun punya kelompok seni budaya. Kita syukuri DIY mendapatkan Danais. Tapi ada yang bilang aku rung nampa karena baru tahun ke-lima,” kata dia.

Menurut dia, kabupaten dan kota di DIY wajib memiliki Taman Budaya. “Bantul belum punya Taman Budaya, sedang mencari tanah. Taman Budaya ini untuk menggiatkan kiprah seni budaya supaya regeng dan lestari. Supaya generasi mendatang tidak kehilangan obor. Mereka tidak perlu belajar ke luar negeri karena DIY gudang seni budaya,” ungkapnya.

Dengan Dana Keistimewaan, Disbud Bantul memberikan dukungan bagi generasi muda untuk melestarikan seni budaya tradisi namun tetap harus berkiblat pada agama, tidak keluar dari paugeran agama. (sol)