Teknologi Digital Tak Bisa Gantikan SDM Pariwisata

Stipram Tuan Rumah Munas Hildiktipari

195
Dr Ir Patdono Suwignjo M Eg Sc menyampaikan paparan di depan peserta Munas Hildiktipari, Jumat (20/07/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata (Hildiktipari).

Munas yang berlangsung tiga hari mulai Kamis hingga Sabtu (19-21/07/2018) di kampus Stipram kali ini diikuti perwakilan dari berbagai kampus pariwisata dari sejumlah daerah di Indonesia.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Dirjen Kelembagaan Iptek Kemenristek Dikti Dr Ir Patdono Suwignjo M Eg Sc. Di hadapan peserta dia memaparkan materinya tentang Penyiapan Tenaga Kerja Menghadapi Tourism 4.0.

“Saya pernah ke politeknik di Jerman, mahasiswanya dari seluruh negara Eropa. Mereka tidak memilih SMA tetapi SMK karena memiliki kepastian dapat pekerjaan. Saat kuliah dapat uang saku cukup serta memperoleh sertifikasi yang diakui semua industri di Eropa,” paparnya.

Sebagai perbandingan, di Indonesia satu kelas SMA misalnya terdapat 40 siswa, tatkala ditanya siapa yang akan meneruskan pendidikan ke politeknik, mungkin jawabnya hanya empat orang saja.

Beruntung, lanjut dia, saat ini pemerintah berkomitmen merevitalisasi pendidikan vokasi. Anggarannya pun tidak dipotong bahkan setiap tahun naik.

Ini merupakan kesempatan yang baik bagi lembaga pendidikan tinggi pariwisata. Bahkan dosen politeknik yang ingin meraih gelar profesor pun kini tidak perlu lagi publikasi internasional, namun cukup digantikan karya monumental.

“Tahun kemarin kita beri gelar profesor dua orang, semua dari politeknik pariwisata. Pemerintah dalam hal ini Kemenristek Dikti membuat segala cara agar politeknik menjadi menarik,” ungkapnya.

Menjawab pertanyaan seorang peserta mengenai lulusan politeknik saat mencari kerja dikalahkan oleh lulusan universitas, menurut Patdono Suwignjo, semua usaha termasuk aturan mengenai politeknik sudah diperbaiki.

“Ternyata salah satu penyebab orang tidak berminat ke politeknik karena lulusan D4 itu diakui setara D3. Padahal lulusan D4 paling jelek sekalipun kemampuannya sama dengan lulusan S1, bahkan secara kompetensi lebih siap,” tandasnya.

Menjawab pertanyaan peserta dari politeknik perhotelan Surakarta mengenai persyaratan dosen yang harus S-2, sambil bercanda Patdono Suwignjo menyampaikan Kemenristek Dikti ibaratnya sudah menyiapkan jurus mabuk.

Prinsipnya, Kemenristek Dikti berkomitmen tidak mempersulit perguruan tinggi yang menyukseskan program pemerintah.

“Kita jawab dengan menyiapkan proses Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sama dengan level 8. Memang, RPL sempat dikeluhkan terlalu birokratis,” tegasnya.

Ketua Stipram Yogyakarta Suhendroyono SH M Par. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Di tempat yang sama, Ketua Stipram Yogyakarta Suhendroyono SH M Par kepada wartawan menyampaikan apresiasinya untuk pemerintah yang sudah peduli dengan pendidikan tinggi pariwisata. Setelah bekerja keras empat tahun, pemerintah kemudian mengakui lembaga pendidikan tinggi pariwisata.

“Pendidikan pariwisata ternyata ilmu tersendiri yang tidak hanya sekadar kursus. Perguruan tinggi pariwisata di Indonesia adalah yang pertama kali memiliki nomenklatur dan pembelajaran. Pariwisata itu ilmu yang aplikatif,” kata dia.

Saat ini pariwisata sudah menjadi kebutuhan seperti halnya pangan, sandang dan papan. Namun demikian ilmu pariwisata tetap mengandalkan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Artinya, meski zaman sudah memasuki era global dan era digital namun demikian SDM pariwisata tidak bisa tergantikan. “Di era digital, tetap yang mengendalikan adalah manusia,” tambahnya.

Soal Munas Hildiktipari, Suhendroyono menyatakan kegiatan ini bernilai sangat strategis sekaligus menjadi bukti pemerintah mengakui keberadaan Hildiktipari serta menjadikannya sebagai partner untuk pengambilan kebijakan.

“Inilah saatnya pariwisata berkembang besar, bukan hanya tingkat nasional tapi juga level internasional,” kata Suhendroyono. (sol)