Tempat Rahasia Balai Yasa

472
Sejumlah teknisi memperbaiki lokomotif di UPT Balai Yasa Yogyakarta. Ke depan, tempat ini disiapkan sebagai pusat perbaikan lokomotif dari seluruh negara di Asia Tenggara. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Suara palu besi menghantam logam terdengar begitu berat. Di antara deru mesin diesel, kilatan cahaya las listrik menyilaukan mata serta gemeretak mesin derek berkapasitas 36 ribu kilogram menggeser beban, terlihat sejumlah pekerja berkutat dengan onderdil mesin.

Satu demi satu, bagian-bagian mesin diesel itu dibongkar, sebagian lagi diturunkan dari rangkanya. Cuaca agak panas, Kamis (05/04/2018) siang, tidak menyurutkan semangat para teknisi yang rata-rata berusia muda itu.

Mengamati  aktivitas kerja di bengkel kereta api di Balai Yasa Yogyakarta, Unit Pelaksana Teknis (UPT) PT Kereta Api Indonesia (Persero) di kawasan Pengok atau Jalan Koesbini  No 1 Yogyakarta, patutlah sekiranya para teknisi yang jago di bidangnya itu memperoleh acungan jempol.

Mereka tidak hanya tertib menjalankan prosedur kerja tetapi juga memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi.

“Sebenarnya tempat ini rahasia,” kelakar Eko Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daop VI Yogyakarta saat mengantar para wartawan melihat kesiapan UPT Balai Yasa Yogyakarta menghadapi Angkutan Lebaran 1439 H/2018 yang dimulai 5 Juni hingga 26 Juni.

Menjadi rahasia karena tidak sembarang orang bisa mengakses tempat tersebut. Seperti halnya tata krama berkunjung di sejumlah obyek vital yang relatif ketat, demikian pula tamu yang datang ke Balai Yasa harus manut mengikuti prosedur keamanan dan keselamatan, minimal harus mengenakan topi pelindung. Ini semua untuk kebaikan bersama.

Peninggalan Belanda

Balai Yasa merupakan fasilitas perbaikan lokomotif kereta api yang sudah berusia tua. Sejarah itu dimulai 1914 tatkala perusahaan swasta milik kaum penjajah Belanda, Nederland Indische Spoorweg Maatschaij (NIS), mendirikan Centraal Warkplaats yang bertugas melaksanakan overhaul lokomotif, gerbong dan kereta.

Baca Juga :  Sayang Istri, Peltu Wahyudi Pilih Vasektomi

Pada 1942 kepemilikannya beralih ke penjajah Jepang kemudian berganti nama menjadi Perusahaan Kereta Api Pemerintah, dengan tugas yang sama.

Tiga tahun kemudian warisan Belanda itu menjadi hak milik negara Indonesia dan berganti nama menjadi Balai Karya. Pada 1959 berubah menjadi Balai Yasa dengan tugas overhaul lokomotif.

Selanjutnya pada 2009 tugasnya tidak hanya melaksanakan overhaul lokomotif tetapi juga genset. Mulai 2010 tambah layanan overhaul KRD (Kereta Rel Diesel) dan mulai 2013 melaksanakan overhaul lokomotif, genset, KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) serta KRDI, kereta buatan anak bangsa.

Berdiri di atas tanah seluas 12,88 hektar dengan luas bangunan keseluruhan mencapai 4,37 hektar, fasilitas ini memiliki 15 track pemeliharaan serta satu tes track sepanjang 800 meter.

Setiap bulan, Balai Yasa mampu memperbaiki 12 lokomotif, 2 KRDE dan KRDI serta 3 unit genset. Jenis perawatan itu meliputi berkala, insidentil, minor overhaul, overhaul, perbaikan dan modifikasi.

Executive Vice President UPT Balai Yasa Yogyakarta, Denny Haryanto, menerangkan pihaknya kini sedang menyiapkan segala sesuatunya, termasuk administrasi, untuk menjadikan Balai Yasa sebagai center of excellence atau pusat layanan perbaikan lokomotif buatan pabrik GE di ASEAN.

Nantinya, seluruh loko dari negara-negara Asia Tenggara perbaikannya dilakukan di Balai Yasa Yogyakarta.

“Mereka (para teknisi) kita sudah mumpuni karena dari awal sudah menangani lok GE. Secara de facto kami sudah bisa dan saat ini sedang menyiapkan kompetensi dan sertifikasi (de jure). Kayak SIM (Surat Izin Mengemudi) itu, meski kita pintar mengendarai mobil, tetapi tanpa SIM kita tidak bisa turun di jalan raya,” ungkap Denny.

Sudah tiga tahun terakhir, pihak GE sendiri melakukan audit ke Balai Yasa dan tahun ini merupakan tahun terakhir, tinggal menunggu hasilnya seperti apa.

Baca Juga :  Ketua RT Perlu Menjaga Jam Wajib Belajar

Tahun ini, Balai Yasa Yogyakarta memprogramkan perbaikan terhadap 71 lokomotif, 40 kereta rel diesel (KRD) dan 95 genset. Tahun sebelumnya, Balai Yasa mampu melakukan perbaikan 158 lokomotif, 33 KRD dan 120 genset.

Denny optimistis, dengan dukungan 447 sumber daya manusia (SDM), 336 orang berada di unit produksi, Balai Yasa dengan slogannya Tiada Hari Tanpa Produksi Tiada Produksi Tanpa Mutu itu bisa mewujudkan keinginan tersebut. “Di ini banyak anak muda usia produktif 26-30 tahun,” ungkapnya.

Menyusul suksesnya memproduksi kereta api inspeksi serta Rail Clinic, ke depan kapasitasnya juga akan ditingkatkan menjadi 20 hingga 25 lok per bulan.

Tidak ada kendala suku cadang karena sudah kontrak jangka panjang enam tahun, jika sewaktu-waktu dibutuhkan tinggal diambil ke pergudangan kawasan Lempuyangan. Selain itu, juga akan dibangun lok khusus KRL (Kereta Rel Listrik).

Eko Budiyanto menambahkan, besar kemungkinan dua tahun lagi KRL sudah mulai beroperasi melayani rute Yogyakarta, Solo dan Kutoarjo. Kementerian Perhubungan sudah menyiapkan anggaran Rp 1 triliun.

Penggunaan KRL selain lebih hemat, lebih cepat dan daya tampung lebih besar, juga karena kapasitas Kereta Api Prameks saat ini sudah tidak lagi mampu menampung luberan penumpang.

“Kapasitas Prameks dengan harga tiket Rp 8 ribu per orang sangat terbatas, setiap hari hanya mampu mengangkut 16 ribu penumpang. Banyak yang protes karena nggak dapat tiket. Kenapa? Karena kapasitasnya dibatasi 800 penumpang. Tiap hari kami menerima komplain karena harus menolak penumpang,” kata dia. (sol)