Terapkan Rumus “3 L” Saat Mendidik Jiwa Wirausaha pada Anak

200
Kasi Kelembagaan Dinas Tenaga Kerja DIY, Dwi Santoso membuka kegiatan Job Fair dan Edu Fair 2018 di SMKN 1 Sewon, Kamis (15/03/2018).(Sari Wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Untuk menumbuhkan sikap wirausaha dalam diri seorang anak, maka diperlukan berbagai langkah untuk memulainya. Setidaknya menurut Kasi Kelembagaan Dinas Tenaga Kerja DIY, Dwi Santoso ada rumus yang harus diterapkan yakni “3 L”.

“Kita sebagai orang tua harus menyadari,  suksesnya seorang anak dalam  dunia wirausaha, ataupun suksesnya mendidik anak berwira usaha harus menggunakan rumus “3L”,”kata Dwi saat membuka Job Fair dan Edu Fair 2018 di SMKN 1 Sewon, Dusun Pulutan, Desa Pendowoharjo, Kamis (15/03/2018). Hadir dalam pembukaan adalah Kepala Disnaker Bantul, Heru Sutadi, Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Bantul Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman,  Kepala SMKN 1 Sewon Sudaryati serta  51 peserta baik perusahaan ataupun kampus yang ikut di Job Fair dan Edu  Fair 2018.

Adapun rumus “3 L” tersebut dijabarkan menjadi Lingkungan, Lahir dan Latihan.

“Lihatlah contoh keluarga Bakrie. Anak-anaknya menjadi pengusaha semua. Karena  sejak lahir memang mereka sudah hidup dalam lingkungan sebagai pengusaha,” kata Dwi.

Selain itu, seorang anak lahir dari keluarga pebisnis atau wirausaha juga bisa menjadi salah satu faktor tumbuhnya jiwa wirausaha pada anak. Juga perlunya orang tua menanamkan jiwa wirausaha kepada anaknya sejak dini.

“Orang itu harus bisa niteni talenta seorang anak. Misal saat kecil orang tua menitip makanan kepada anak untuk bisa dijual di kantin sekolah, maka harus cermat melihat respon anak. Ada yang bergembira, namun ada juga yang malu,” katanya.

Dari sana orang tua bisa melihat apa bakat yang ada pada diri seorang anak untuk kemudian bisa dipupuk dan dikembangkan.

“Perlu juga menanamkan karakter. Karena dalam usaha, 80 persen yang berlaku adalah attitude. Sedangkan yang 20 persen bersifat teknis. Buat apa cerdas tadi umpama tidak jujur,”katanya.

Sehingga pembentukan karakter sangatlah diperlukan dalam membangun sebuah jaringan usaha.

Sementara terkait Job Fair, dirinya meminta dunia usaha di saat membuka lowongan bagi para lulusan sekolah termasuk di SMKN 1 Sewon harus jelas. Termasuk untuk jumlah gajinya, sistem kerjanya, job order, hak dan kewajiban serta hal lain yang juga harus disampaikan kepada pihak sekolah. Dengan demikian pekerjaan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara itu Kepala Sekolah SMKN 1 Sewon, Sudaryati mengatakan jumlah peserta Job Fair dan Edu Fair 2018 ada 51 lembaga.

Dari pengamatan koranbernas.id terlihat  perusahaan yang mengikuti kegiatan, baik dari klinik kecantikan, restoran, hotel dan industri busana, lembaga pendidikan dan juga dunia usaha lainnya. Juga beberapa lembaga pendidikan serta Perguruan Tinggi (PT).

Sebelumnya, pada Februari para siswa telah mengikuti Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) tahun 2018 selama empat hari yang berakhir Rabu (21/02/2018). Para siswa terbagi dalam empat keahlian yakni akomodasi perhotelan dan perjalanan wisata, keahlian kulier (jasa boga dan pastry), tata kecantikan kulit dan rambut serta Teknik Jaringan Komputer (TJK).

Saat praktek para siswa nampak bersungguh-sungguh melaksanakan sesuai dengan bidang keahlian mereka. Karena memang di SMKN 1 Sewon segala peralatan untuk praktek telah di setting sesuai dengan standar internasional. Untuk  praktek hotel laksana berada di hotel berbintang. Semua ditata seperti pada dunia kerja  sesungguhnya.

Begitupun untuk praktek memasak dan pembuatan kue, alat yang digunakan juga sesuai standar di restoran pada umumnya. Untuk menu yang disajikan juga sudah standar menu restoran sesunguhnya berikut dengan tata cara penyajiannya.

Kemudian untuk tata kecantikan baik kulit ataupun rambut, para siswa praktek langsung bak perias profesional “menyulap”  model masing-masing menjadi begitu cantik dan menawan. Khusus untuk rambut para siswa praktek menata, memotong dan mengeriting. Begitupun tata busana juga menampilkan beragam mode busana yang sedang trend dan aneka jenis busana.

Untuk keperluan UKK mereka menggunakan tim penilai dari Lembaga Sertifikasi Profesi 3 yakni dari Dunia Usaha Dunia Industri  (DUDI) ataupun LSP 1 yakni dari Satuan Pendidikan DIY. Selanjutnya bagi mereka yang lolos uji kompetensi akan mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)  yang bisa digunakan di dunia kerja. Sehingga lulusan SMKN 1  Sewon, memiliki standar keahlian

sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja. Banyak juga yang langsung terserap di dunia kerja. (SM)