Terindikasi Ikut Paham Radikal, UIN Suka Larang Mahasiswi Bercadar

567
Rektor UIN Suka, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD memperlihatkan surat pernyataan dari mahasiswi untuk mengikuti kode etik UIN Suka di kampus setempat, Senin (05/03/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – UIN Sunan Kalijaga membuat kebijakan baru. Sempat kecolongan, kampus negeri tersebut akhirnya melarang penggunaan cadar bagi mahasiswinya. Kebijakan tersebut dituangkan dalam surat keputusan B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme ke kampus dibawah Kementerian Agama itu.

Beberapa waktu lalu, bendera  beberapa mahasiswa mengibarkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di sejumlah titik di kampus. Mereka disinyalir mengikuti paham radikal karena menentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Masuknya bendera HTI di kampus bisa dianggap kampus ini jadi sarang HTI. Ini jelas merugikan kami,” ungkap Rektor  UIN Suka, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD di kampus setempat, Senin (05/03/2018).

Menurut Rektor, bukan tanpa alasan kampus melarang penggunaan cadar bagi mahasiswinya. Dari hasil investigasi yang dilakukan kampus sejak beberapa waktu lalu ditemukan 41 mahasiswi yang menggunakan cadar ternyata terindikasi mengikuti organisasi terlarang tersebut.

Baca Juga :  Merajut Kembali Silaturahim Kebangsaan Jogja-Makassar

Ke-41 mahasiswi itu tersebar di semua fakultas UIN Suka seperti, 8 orang dari Fakultas Syari’ah dan Hukum, 6 mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta 6 mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Selain itu 3 mahasiswi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, 8 mahasiswi Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 4 mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikas, 2 mahasiswi Sains dan Teknologi serta 5 mahasiswi Ushuluddin dan Pemikiran Islam.

“Larangan cadar ini sebagai bentuk preventif kami karena mereka terjebak pada ideology administrasi politik pendidikan. Daripada tahu-tahu ada polisi datang dan menangkap mereka karena terjebak paham radikal,” tandasnya.

Rektor UIN Suka, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD (baju biru) menyampaikan paparannya terkait pelarangan cadar di kampus setempat, Senin (05/03/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Rektor menambahkan, ke-41 mahasiswi tersebut akan dipanggil dan mendapatkan konseling. Kampus membentuk tim yang terdiri dari dosen yang berasal dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang Islam moderat sesuai visi dan misi UIN Suka yang mendukung Pancasila, Bhineka Tunggal Ika serta NKRI.

Baca Juga :  Kulonprogo Peringkat Dua Fatalitas Laka Lantas

Tim konseling terdiri dari lima dosen di masing-masing fakultas. Konseling dilakukan selama tujuh kali untuk mengembalikan pemahaman kebangsaan mereka.

“Kalau sampai tujuh kali konseling tidak ada perubahan, maka kami persilahkan mahasiswi untuk pindah kampus. Kami akan memberikan surat rekomendasi bagi mereka untuk keluar dari kampus,” ungkapnya.

Wakil Rektor II UIN Suka, Dr Sahiron Syamsudin menambahkan, kampus tersebut pada tahun ajaran baru nanti akan menggandeng pesantren untuk memberikan pelatihan tentang ke-Islaman dan Pancasila bagi mahasiswa baru.

“Mahasiswa baru dapat belajar tentang Islam dan Pancasila agar mahasiswa tidak terjebak paham radikal,” imbuhnya.(yve)