Ternak Lele Pakai Pot Bunga pun Oke

815
Sugiharyanto dan Atun memberi makan lele di pot. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pot ternyata tidak hanya buat menanam bunga atau bibit pohon. Untuk beternak lele pun oke. Tidak percaya? Sudah ada buktinya kok. Coba Anda datang ke rumah pasangan Sugiharyanto dan Atun di Surokarsan RT 14 RW 04 Kelurahan Wirogunan Yogyakarta.

Di depan rumahnya, mepet sungai berjejer lebih dari 10 pot ukuran besar warna hitam. Isinya ikan lele sedang dalam proses pembesaran.

Ditemui koranbernas.id, Sabtu (28/04/2018) di rumahnya, Ny Atun didampingi suaminya, Yanto, menjelaskan budi daya lele ini baru  dimulai November 2017.

Hingga kini sudah tiga kali panen karena memilih bibit yang sudah remaja sehingga dua bulan  bisa  panen. Risiko kematian lebih kecil dibanding bibit ukuran kecil. Satu pot cukup untuk 100 bibit remaja ukuran 5 – 7.

Pada pembesaran kedua diisi 150 ekor lele dengan ukuran lebih kecil. Ternyata risiko kematian memang lebih tinggi.

Budi daya lele dengan pot ini awalnya mendapat bimbingan teknis dari Andi Maulana, pendamping Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Dinas Sosial. Dasar pot itu diberi semen, dari delapan lubang disisakan satu untuk sirkulasi air menggunakan paralon.

Pot didesain begitu rupa sehingga tidak ribet saat menguras dan mengisi air kembali secara otomatis. Soalnya setiap tiga hari pot harus dikuras agar sisa makanan tidak menjadi racun.

Mulai dari memasukkan bibit sampai panen, setiap ember hanya memerlukan 3 sampai 4 kg pelet. Yanto menggunakan pelet atau makanan lele 781-2 yang banyak nutrisinya. Harganya tidak mahal, Rp 281.000 per karung isi 30 kg. Jadi cukup irit.

Bibit lele disuplai dari Surabaya jenis masamo, hasil perkawinan antara lele dumbo dengan lele sangkuriang. Harganya antara Rp 350 sampai Rp 500 per ekor tergantung ukuran.

“Lele jenis ini lebih tahan penyakit dibanding lele dumbo. Selain itu dagingnya juga lebih keset atau padhet dan rasanya lebih gurih,” kata Atun.

Baca Juga :  Mapsi Ajarkan Akhlak Generasi Milenial
Dengan pot ukuran besar itulah budidaya ikan lele dilakukan. (arie giyarto/koranbernas.id)

Awalnya diragukan

Awalnya, usaha ini diragukan. Ada yang bilang, masak budi daya lele kok pakai pot. Setelah panen pertama berhasil baik, warga sekitar melihat, banyak yang tertarik.

Ny Wahyuni misalnya, selain menjadi anggota KUBE, dia juga mencoba budi daya sendiri karena bisa disambi. Sabtu sore itu, sambil menggendong anaknya dia membeli pelet di rumah Yanto yang buka warung. Minat budi daya lele itu juga menyebar ke warga lain RT.

Hasil panen pertama dibagikan pada warga sekitar agar mencicipi. “Itung-itung, promosilah,”  kata Yanto yang ke depan punya obsesi wilayahnya bisa menjadi Kampung Mina supaya bisa menyuplai sebagian kebutuhan lele yang sangat tinggi dan masih didatangkan dari luar Yogya.

Pasar ikan lele masih sangat terbuka. Sebagian lele hasil KUBE ini dijual dengan harga sedikit di bawah harga pasar. “Kalau sekarang harga pasar sampai Rp 24.000 per kg maka lele KUBE ini bisa dibeli dengan harga  Rp 1.000 di bawah harga pasar,” kata Yanto.

Itu pun sudah dibersihkan atau dibetheti sehingga tinggal menggoreng. Jerohan tidak dibuang tetapi bisa dimanfaatkan untuk pakan lele juga.

Lele pot ini juga lebih bersih dibanding dengan lele yang dibudidayakan di kolam besar. Memanennya pun tidak ribet, karena tinggal membuka tutup pot yang terbuat dari jaring agar lele tidak melompat.

Hasil sampingan

Dari budi daya ini tak hanya menghasilkan lele saja. Air pertama dari paralon yang menempel pada pot, ditampung dan bisa menghasilkan bioflog, pupuk tanaman yang aman.

Atun dan Yanto sudah mencobanya untuk memupuk tanaman lombok dan sayuran. “Itu di bawah kan ada tanaman sawi, terong, kembang kol dan sebagainya. Tanaman itu tumbuh subur,” kata Yanto menunjuk ke bawah.

Baca Juga :  Diawali Suara Gemuruh, Ladang Pertanian Mendadak Ambles

Rumahnya yang berada di pinggir kali Code berada di ketinggian sehingga aman dari banjir dan memperoleh view yang menarik. Di sisi barat sungai merupakan tumpukan pasir dan krakal anugerah alam dari Merapi yang dibawa aliran air sampai Surokarsan yang bisa dimanfaatkan warga.

Semua pekerjaan pasti punya risiko. Pernah dipatil lele? “Ya sering. Tetapi lele ini patil-nya tidak seganas  patil lele lokal yang seperti beracun. Orang yang kena patil bisa sakit sekali bahkan sampai badan  nggregesi.  Kalau ini tidak,” kata Yanto sambil tersenyum.

Usaha budi daya ikan lele dengan 10 anggota itu mendapat hibah dari  KUBE sebesar Rp 10 juta. Perkembangan usahanya  selalu dipantau.

Sebagian ada yang dipakai simpan pinjam khusus anggota yang mungkin ingin beli pot, bibit atau pakan lele. Semua bisa jalan lancar karena secara rutin kelompok wajib melaporkan keuangannya.

Banyak orang tertarik budi daya ikan lele dengan memanfaatkan  lahan sempit perkotaan. Terbukti adanya pesanan pot. Tahap pertama ada yang sudah membeli 10 pot.

Saat ini masih ada 12 pot pesanan siap ambil di depan rumah Yanto. Bertambahnya warga yang tertarik tentu saja ini menggembirakan bagi pria yang punya obsesi mewujudkan Kampung Mina itu.

Kenapa tidak memakai ember? Menurut Atun, ember dengan ukuran itu harganya lebih dari Rp 200.000. Sedang pot hanya Rp 110.00. Perbedaan harganya cukup signifikan terutama bagi pemula yang ingin coba-coba.

Di wilayah Kelurahan Wirogunan ada dua usaha budidaya lele dalam kelompok. Satunya lagi ada di kampung Joyonegaran. Bahkan di Joyonegaran  dari satu akan tambah satu lagi menjadi dua kelompok. Bukankah ini sebuah indikasi keberhasilan? Tentu saja harus ditangani serius. (sol)