Ternyata Kandang Komunal Lebih Menguntungkan

184
Kandang ternak komunal yang dibangun Pemkab Kebumen dikelola kelompok tani ternak Rukun Maju Makmur Desa Sitiadi Kecamatan Puring. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan tiga kabupaten mengembangkan Agro Techno Park (ATP).

Tiga kabupaten itu adalah Polewali Mandar Sulawesi Tengah, Musi Rawas Sumatera Selatan serta Klaten Jawa Tengah. Tujuannya untuk mewujudkan model pertanian dan peternakan terpadu.

Selama dua hari, Rabu dan Kamis (26-27/9/2018), sebanyak 9 orang peternak dan 5 orang pelaksana Sciene Tehcnopark dari tiga kabupaten itu mengikuti pelatihan pemeliharaan sapi secara komunal di peternakan komunal, Kelompok Tani Ternak Rukun Maju Makmur, Desa Sitiadi Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen.

Pelatihan pemeliharaan sapi secara komunal untuk pengembangan bisnis peternakan Science Technopark menjadi tahapan terwujudnya ATP di tiga kabupaten tersebut.

Baca Juga :  PGOT Meninggal Mendadak di  Jalan Lintas Selatan

Peneliti BATAN Wahidin Teguh Sasongko MSc kepada koranbernas.id di sela-sela pelatihan mengatakan, tiga daerah itu punya potensi bisnis perternakan yang baik.

Namun, belum banyak peternak memelihara sapi secara komunal, sehingga belum ada manfaat dan keuntungan yang lebih dibanding menerapkan peternakan komunal.

Hasil samping dari ternak komunal di antaranya limbah pakan dan kotoran ternak untuk pupuk organik dan biogas.

“Kebumen dipilih sebagai tempat pelatihan sebab sudah ada peternakan komunal yang  sudah  memanfaatkan hasil sampingnya,“ kata Wahidin Teguh Sasongko, didampingi Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kebumen, Purnowati SP MSi.

Peternak di tiga kabupaten itu sebagian sudah menerapkan model peternakan dan pertanian terpadu. Di Klaten, peternak mengembangkan usaha pembenihan padi varietas unggul yang dikembangkan BATAN.

Baca Juga :  Wisatawan Kanada Terseret Ombak Pantai Krakal

Bisnis ini diharapkan berkelanjutan meskipun BATAN tidak lagi membina mereka.

Purnowati menambahkan, pemeliharaan sapi komunal di Sitiadi dengan  hasil samping pupuk organik dan biogas, merupakan bagian dari program pembenihan sapi di lokasi itu.

Pembenihan sapi jenis peranakan ongole (PO) menjadi unggulan  peternak bibit unggul. Mereka bisa menghasilkan pupuk organik dan biogas dari limbah pakan dan kotoran ternak yang terkumpul.

“Kebumen pusat produksi benih sapi peranakan ongole,“ kata Purnowati. (sol)