Ternyata, Tanam Kangkung Lebih Untung Dibanding Padi

699
Petani kangkung di Desa  Purwogondo Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen memanen  kangkung,  Kamis (08/02/2018). (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bercocok tanam kangkung tidak bisa  dianngap pekerjaan sepele. Penghasilan petani kangkung bisa lebih lima kali lipat dibanding petani padi, dengan masa tanam yang sama.

Berkah rezeki tersebut kini dirasakan petani kangkung di Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Tatkala harga kangkung sedang baik, petani kangkung yang memiliki lahan seluas  100 ubin  atau  1.400 meter persegi, sekali  panen bisa mendapat hasil penjualan kotor Rp 7,5 juta.

Jika luas lahan mencapai 1 hektar atau 10.000 meter persegi, penghasilannya lebih dari Rp 20 juta per bulan.

Padahal, petani bisa panen kangkung tiap 30 hari. Sekali panen untuk lahan seluas itu bisa menghasilkan paling sedikit Rp 3 juta sampai  Rp 10 juta.

Baca Juga :  Pemancing Gurita Akhirnya Ditemukan 1 Km dari Lokasi Kejadian

Penghasilan paling rendah, jika harga kangkung turun sampai  Rp 2.000 per ikat. Ketika harga kangkung membaik, bisa mencapai  Rp 7.000 per ikat di tangan petani.

Salah seorang petani kangkung, Sigit (36), warga Desa Purwogondo Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen kepada koranbernas.id, Kamis (08/02/2018) mengungkapkan, keluarganya  tidak punya lahan sawah.

Lahan sawah seluas  100 ubin itu dia sewa. Lahan  itu sebenarnya untuk tanaman padi tapi difungsikan untuk bercocok tanam kangkung.

“Saya sewa lahan dengan nilai sewa sama dengan 8 kuintal gabah untuk lama sewa satu musim tanam padi, atau 4 bulan,“ kata Sigit di sela-sela  memanen  kangkung di lahan sewanya.

Lahan itu seluruhnya ditanami kangkung. Paling lama 30 hari sekali tanaman kangkung bisa dipanen. Lahan kangkung seluas 100 ubin bisa menghasilkan 1.500 ikat kangkung sekali panen.

Baca Juga :  UMY Makin Terbiasa dengan Suasana Internasional

Harga kangkung per ikat  paling  rendah Rp 2.000, paling tinggi Rp 7.000. Jika harga kangkung sedang membaik, keuntungan semakin besar. “Sekarang harga per ikat Rp 5.000. Turun, sebelumnya  Rp 7.000,” ungkap Sigit.

Penghasilan bersih setelah dikurangi  sarana produksi, jauh  lebih besar  dibanding bertanam padi.  Karena itu makin banyak warga di Kecamatan Kuwarasan mengubah lahan padi menjadi lahan kangkung.

Lahan  kangkung  di Kuwarasan dan Gombong semakin luas, ketika banyak petani yang mengetahui penghasilan budi daya kangkung jauh  lebih menguntungkan dibanding budi daya padi. (sol)