Teror Bom Bisa Guncang Pemerintah

136

KORANBERNAS.ID — Bapak Bangsa yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr H Syafi’i Ma’arif meminta agar pemerintah dan aparat keamanan mengusut secara tuntas insiden pengeboman di tiga gereja yang terjadi Minggu (13/5/2018) pagi di Surabaya.

Saat ditemui sejumlah media, usai menunaikan salat Ashar secara berjamaah, pria yang akrab disapa Buya Syafi’i itu mengaku tak habis pikir tentang sel-sel jaringan teroris yang terus tumbuh dan berkembang, meski penegakan hukum dan pemberantasan terorisme terus dilakukan. Dirinya pun berharap, aparat keamanan dapat menguak dalang utama aksi pengeboman yang menewaskan 11 orang dan 41 korban menderita luka-luka.

“Aksi teror ini kan sudah berulang-ulang nih. Dari bom Bali sampai sekarang, dan kita berharap kalau sudah dieksekusi akan mati. Ternyata, mati satu tumbuh seribu,” tuturnya.

Namun, Buya belum dapat menganalisis aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur yang diduga dilakukan oleh satu keluarga. Buya Syafi’i pun meminta masyarakat menunggu penyelidikan dan penyidikan aparat kepolisian tentang jaringan teroris yang beraksi di Jawa Timur.

“Saya tidak tahu ini masuk jaringan yang mana. Ada pejabat polisi yang saya kenal, dia bilang kalau ini aksi tunggal, atau istilahnya lone wolf. Namun, kita tunggu saja kerja kepolisian. Sampai saat ini, kita juga belum tahu jumlah pasti korbannya, kan,” kata Buya di kediamannya yang terletak di Perum Nogotirto Gamping Sleman.

Lebih lanjut Buya Syafi’i menegaskan pengusutan kasus pengeboman di Surabaya hingga tuntas penting artinya untuk menjaga wibawa pemerintah sebagai penjaga dan pelindung masyarakat.

Pendiri lembaga Ma’arif Institute itu khawatir jika pemerintah dan aparat gagal menghentikan teror-teror yang terjadi, maka akan muncul keraguan di masyarakat terkait tugas pokok aparat dan pemerintah menjaga kondisi kamtibmas yang kondusif.

“Ini yang saya khawatirkan adalah akan ada imbasnya pada legitimasi pemerintah. Nanti digoreng isu, ternyata negara tidak dapat mengamankan tempat ibadah, dan membuat masyarakat cemas. Padahal, polisi sudah bekerja keras, walaupun saya rasa masih perlu ditingkatkan efektivitasnya,” terangnya.

Rentetan bom terjadi pada Minggu pagi di tiga lokasi berbeda yaitu di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela yang terletak di Jalan Ngagel Madya Utara. Kemudian Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan di Jalan Harjuno dan Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 yang terletak di Jalan Raya Diponegoro Surabaya.

“Saya rasa kita harus cari, apa akar pokok permasalahannya,” tandas Buya.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sempat mengungkapkan pernyataan resmi jika pelaku teror di tiga gereja di Surabaya berasal dari satu keluarga. Pelaku teror telah dilengkapi dengan bom bunuh diri dan kemudian disebar ke tiga lokasi berbeda yang telah ditentukan sebelumnya. (yve)