Teror Sarana Ibadah Jangan Terulang

336
Anggota Kokam Bantul menggelar apel kesiapsiagaan di Lapangan Jambidan, Banguntapan, Selasa (13/03/2018) sore terkait pembakaran sarana ibadah sehari sebelumnya. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ratusan anggota Kokam Daerah Bantul menggelar apel kesiapsiagaan di Lapangan Jambidan, Selasa (13/03/2018) sore. Apel digelar sebagai respon atas pembakaran gasebo dan sarana ibadah di Mushola Faturrahman
Dusun Kepanjen RT 03,Jambidan,Kec Banguntapan sehari sebelumnya.

Lokasi mushole tepat di timur lapangan Jambidan. Apel dipimpin komandan upacara Agus Widiatmoko yang juga komandan Kokam Banguntapan Selatan serta Inspektur Upacara (Irup) Wakijo Ketua Pengurus Cabang Muhammadiyah Banguntapan Selatan.

Upacara ini juga diikuti anggota pencak silat Tapak Suci, dimana usai apel teriakan takbir berkali-kali terdengar di lapangan dari para peserta. Sembari mereka menerikan dukungan kasus tersebut bisa diungkap aparat berwajib.

“Marilah kita bersama-sama untuk bisa menahan diri dan menyerahkan pengungkapan kasus kepada aparat berwenang,” kata Wakijo.

Selain itu kepada seluruh anggota Kokam,dan masyarakat secara umum dirinya meminta selalu meningkatkan kewaspadaan, termasuk melakukan pengamanan di lingkungan guna menghindari hal serupa terulang lagi. Jangan sampai teror tempat ibadah ini terulang lagi. Kejadian kemarin merupakan kejadian ketiga di Kabupaten Bantul.

Sementara itu Komandan Kokam Daerah Kabupaten Bantul,Yusuf Fuad SE dalam pernyataan sikapnya mengecam peristiwa tersebut.

Baca Juga :  Lesson Study Atasi Kejenuhan Membaca

“Perbuatan in adalah bentuk kebiadaban terhadap umat Islam di Banguntapan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia,” katanya.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tindakan hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tidak beragama yang menjadi indikator kebangkita PKI di NKRI. Untuk itu Kokam siap membantu Polisi dan TNI dalam melakukan inestigasi sehingga terungkap dengan tuntas siapa dibalik kejadian itu.

“Kokam juga menghimbau kepada umat islam dan komponen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkokoh silaturahim, agar tidak mau dipecah belah dan diadudomba, sehingga NKRI tetap terjaga dari sabang sampai Merauke. Tim Kokam juga tentunya membentuk tim untuk mencari data-data guna mendukung aparat secepatnya mengungkap kasus ini,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya pada Minggu (11/03/2018) pukul 18.30 WIB terjadi pembakaran gasebo TPA Faturrahman Dusun Kepanjen RT 03, Desa Jambidan, Banguntapan. Kejadian berlanjut pada Senin (12/03/2018) pagi ditemukan pembakaran karpet, sajadah dan sarung di Mushola tersebut.

Dari data yang dikumpulkan koranbernas.id, pembakaran gasebo diketahui pertama kali oleh Suryanto yang rumahnya tidak jauh dari lokasi. Dari lantai dua rumahnya, habis mahrib dirinya melihat api dan kepulan asap. Bergegas dia datang ke lokasi dan ternyata gasebo mushola telah terbakar.

Baca Juga :  Lihatlah, Para Siswi Cekatan Merias Wajah

Selanjutnya Suyanto segera memberi tahu para tetangga dan bersama-sama memadamkan api. Setelah padam, mereka pergi ke rumah salah satu warga yang sedang ada sripah, sehingga tidak melapor ke aparat kepolisian.

Sementara itu, Senin (12/03/2018) sekitar ukul 06.00 WIB Ir Sudarman pengajar PAUD saat melintas mushola melihat pintunya terbuka dan segera melakukan pengecekan ke dalam. Karena memang biasanya pintu mushola selalu tertutup.

Betapa kagetnya ketika mengecek ke dalam didapati karpet, sajadah dan sarung yang berada di ruang imam sudah terbakar dan hangus, serta api didapati telah padam. Karpet yang terbakar disentuh juga telah dingin. Selanjutnya Sudarman menginformasikan kepada M Juweni seorang aktivis Kokam yang rumahnya tidak jauh dari lokasi. Selanjutnya keduanya keduanya melapor kejadian tersebut ke Polsek Banguntapan.

Tidak berapa lama Tim Inafis Polres Bantul dipimpin Kasatreskrim AKP Anggaito Hadi SIK melakukan olah TKP. Tim Inavis juga mengamankan karpet, sajadah dan sarug yang terbakar untuk bahan penyelidikan. Lokasi kemudian dipasangi police line. (yve)